Sabtu, 10 April 2021

 

Tantangan dan Peluang Industri 4.0

A.     Tantangan

Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia (Tjandrawinata, 2016).

Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya. Manusia bahkan akan hidup dalam ketidakpastian (uncertainty) global, oleh karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat. Tiap negara harus merespon perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif. Respon tersebut dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik, swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil sehingga tantangan industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.

Wolter mengidentifikasi tantangan industri 4.0 sebagai  berikut;

1) masalah keamanan teknologi informasi;

2) keandalan dan stabilitas mesin   produksi;  

3)  kurangnya   keterampilan   yang memadai;

4) keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan; dan

5) hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi (Sung, 2017).

 

 

 

 

 

Lebih spesifik, Hecklau et al (2016) menjelaskan tantangan industri 4.0 sebagai berikut.

Tabel 1. Tantangan Industri 4.0 (Heckeu et al, 2016)

 

Tantangan ekonomi

Globalisasi yang terus berlanjut:

Keterampilan antarbudaya

Kemampuan berbahasa

Fleksibilitas waktu

Keterampilan jaringan

Pemahaman proses

Meningkatnya kebutuhan akan inovasi:

Pemikiran wirausaha

Kreativitas,

Pemecahan masalah

Bekerja di bawah tekanan

Pengetahuan mutakhir

Keterampilan teknis

Keterampilan penelitian

Pemahaman proses

Permintaan untuk orientasi layanan yang lebih tinggi:

Pemecahan konflik

Kemampuan komunikasi

Kemampuan berkompromi

Keterampilan berjejaring

Tumbuh kebutuhan untuk kerja sama dan kolaboratif:

Mampu berkompromi dan kooperatif

Kemampuan bekerja dalam tim

Kemampuan komunikasi

Keterampilan  berjejaring

 

Tantangan Sosial

1. Perubahan demografi dan nilai sosial:

Tantangan Teknis

Perkembangan teknologi dan penggunaan data eksponensial:

Keterampilan teknis

Kemampuan analisis

Efisiensi dalam bekerja dengan data

Keterampilan koding

Kemampuan memahami keamanan TI

Kepatuhan

Menumbuhkan kerja kolaboratif:

Mampu bekerja dalam tim

Kemampuan komunikasi virtual Keterampilan media

Pemahaman keamanan TI

Kemampuan untuk bersikap kooperatif


 

Tantangan Lingkungan

Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya:

Pola pikir berkelanjutan

Motivasi menjaga lingkungan

Kreativitas untuk mengembangkan solusi keberlanjutan baru

Tantangan       Politik dan Aturan

Standarisasi:

Keterampilan teknis

Keterampilan koding

Pemahaman proses

Keamanan data dan privasi:

Pemahaman keamanan teknologi informasi

Kepatuhan

 

Irianto (2017) menyederhanakan tantangan industri 4.0 yaitu;

1)      kesiapan industri;

2)      tenaga kerja terpercaya;

3)      kemudahan pengaturan sosial budaya; dan

4)      diversifikasi dan penciptaan lapangan kerja dan peluang industri 4.0 yaitu;

a.       inovasi ekosistem;

b.      basis industri yang kompetitif;

c.       investasi pada teknologi; dan

d.      integrasi Usaha Kecil Menengah (UKM) dan kewirausahaan.

 

 

Pemetaan tantangan dan peluang industri 4.0 untuk mencegah berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat, salah satunya adalah permasalahan pengangguran. Work Employment and Social Outlook Trend 2017 memprediksi jumlah orang yang menganggur secara global pada 2018 diperkirakan akan mencapai angka 204 juta jiwa dengan kenaikan tambahan 2,7 juta. Hampir sama dengan kondisi yang dialami negara barat, Indonesia juga diprediksi mengalami hal yang sama. Pengangguran juga masih menjadi tantangan bahkan cenderung menjadi ancaman. Tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2017 sebesar 5,33% atau 7,01 juta jiwa dari total 131,55 juta orang angkatan kerja (Sumber: BPS 2017).

Data BPS 2017 juga menunjukkan, jumlah pengangguran yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menduduki peringkat teratas yaitu sebesar 9,27%. Selanjutnya adalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,03%, Diploma III (D3) sebesar 6,35%, dan universitas 4,98%. Diidentifikasi, penyebab tingginya kontribusi pendidikan kejuruan terhadap jumlah pengangguran di Indonesia salah satunya disebabkan oleh rendahnya keahlian khusus dan soft skill yang dimiliki.

Permasalahan pengangguran dan daya saing sumber daya manusia menjadi tantangan yang nyata bagi Indonesia. Tantangan yang dihadapi Indonesia juga ditambah oleh tuntutan perusahaan dan industri. Bank Dunia (2017) melansir bahwa pasar kerja membutuhkan multi-skills lulusan yang ditempa oleh satuan dan sistem pendidikan, baik pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi.

Indonesia juga diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2040, yaitu penduduk dengan usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif. Jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 64% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 297 juta jiwa. Oleh sebab itu, banyaknya penduduk dengan usia produktif harus diikuti oleh peningkatan kualitas, baik dari sisi pendidikan, keterampilan, dan kemampuan bersaing di pasar tenaga kerja.


 

B.      Peluang dan Masa Depan Pendidikan Kejuruan   

Tantangan dan peluang industri 4.0 mendorong inovasi dan kreasi pendidikan kejuruan. Pemerintah perlu meninjau relevansi antara pendidikan kejuruan dan pekerjaan untuk merespon perubahan, tantangan, dan peluang era industri 4.0 dengan tetap memperhatikan aspek kemanusiaan (humanities). Tantangan pendidikan kejuruan semakin kompleks dengan industri 4.0.

Menjawab tantangan industri 4.0, Bukit (2014) menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan (Vocational Education) sebagai pendidikan yang berbeda dari jenis pendidikan lainnya harus memiliki karakteristik sebagai berikut;

1.      berorientasi pada kinerja individu dalam dunia kerja;

2.      justifikasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan;

3.      fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif;

4.      tolok ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah;

5.      kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja;

6.      memerlukan sarana dan prasarana yang memadai; dan

7.       adanya dukungan masyarakat.

 

Brown, Kirpal, & Rauner (2007) menambahkan bahwa pelatihan kejuruan dan akuisisi keterampilan sangat mempengaruhi pengembangan identitas seseorang terkait dengan pekerjaan. Selanjutnya, Lomovtseva (2014), Edmond dan Oluiyi (2014) menjelaskan pendidikan kejuruan merupakan tempat menempa kematangan dan keterampilan seseorang sehingga tidak bisa hanya dibebankan kepada suatu kelompok melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

Pendidikan kejuruan dan pelatihan kejuruan memiliki tujuan yang sama yaitu pengembangan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan pembentukan kompetensi seseorang. Hal ini telah dijelaskan oleh “Bapak Pendidikan Kejuruan Dunia” Prosser dan Quigley (1952),menyatakan bahwa pendidikan kejuruan menjadi bagian dari total pengalaman individu untuk belajar dengan sukses agar dapat melakukan pekerjaan yang menguntungkan.

Pendidikan kejuruan juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian individu dalam berwirausaha sesuai dengan kompetensi yang dimiliki (Kennedy, 2011). Penyiapan beberapa kompetensi harus dilakukan karena pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu (Sudira, 2012) dan menyiapkan lulusannya yang mampu dan mau bekerja sesuai dengan bidang keahliannya (Usman, 2016; Yahya, 2015).

Pendidikan kejuruan diselenggarakan pada suatu lembaga berupa institusi bidang pendidikan baik sekunder, pos sekunder perguruan tinggi teknik yang dikendalikan pemerintah atau masyarakat industri (Kuswana, 2013). Pendidikan kejuruan difokuskan pada penyediaan tenaga kerja terampil pada berbagai sektor seperti perindustiran, pertanian dan teknologi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi (Afwan, 2013).

Berdasarkan asumsi-asumsi yang ada, pendidikan kejuruan merupakan jenis pendidikan yang unik karena bertujuan untuk mengembangkan pemahaman, sikap dan kebiasaan kerja yang berguna bagi individu sehingga dapat memenuhi kebutuhan sosial, politik, dan ekonomi sesuai dengan ciri yang dimiliki. Pendidikan dan pelatihan kejuruan merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada kebutuhan industri sehingga peningkatan dan pengembangan individu dapat dilakukan di industri (Zaib & Harun, 2014). Berdasar teori yang


 

ada, pendidikan kejuruan berpeluang untuk menjawab tantangan industri 4.0.

Tantangan tersebut harus dijawab dengan cepat dan tepat agar tidak berkontribusi terhadap peningkatan pengangguran. Pemerintah berupaya merespon tantangan industri 4.0, ancaman pengangguran, dan bonus demografi dengan fokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan kejuruan di tahun 2018. Pemerintah melalui kebijakan lintas kementerian dan lembaga mengeluarkan berbagai kebijakan. Salah satu kebijakan pemerintah adalah revitalisasi pendidikan kejuruan Indonesia. Dukungan dari pemerintah harus mencakup,

1) sistem pembelajaran,

2) satuan pendidikan,

3) peserta didik, dan

4) pendidik dan tenaga kependidikan juga dibutuhkan.

 

Revitalisasi sistem pembelajaran meliputi,

1) kurikulum dan pendidikan karakter,

2) bahan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, 3) kewirausahaan,

4) penyelarasan, dan

5) evaluasi.

 

Satuan pendidikan meliputi,

1) unit sekolah baru dan ruang kelas baru,

2) ruang belajar lainnya,

3) rehabilitasi ruang kelas,

4) asrama siswa dan guru,

5) peralatan, dan

6) manajemen dan kultur sekolah.

 

Elemen  peserta  didik  meliputi,  

1)   pemberian   beasiswa  dan

2)   pengembangan     bakat   minat. 

 

Elemen pendidik dan tenaga kependidikan meliputi,

1) penyediaan,

2) distribusi,

3)  kualifikasi,

4) sertifikasi,  

5) pelatihan,   

6) karir            dan      kesejahteraan,            dan

7) penghargaan dan perlindungan.

 

Penguatan empat elemen yang ada dalam sistem pendidikan membutuhkan gerakan kebaruan untuk merespon era industri 4.0. Salah satu gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah adalah gerakan literasi baru sebagai penguat bahkan menggeser gerakan literasi lama. Gerakan literasi baru yang dimaksudkan terfokus pada tiga literasi utama yaitu,

1) literasi digital,

2) literasi teknologi, dan

3) literasi manusia (Aoun, 2017).

 

Tiga keterampilan ini diprediksi menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan atau di era industri 4.0.

Literasi digital diarahkan pada tujuan peningkatan kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital (Big Data), literasi teknologi bertujuan untuk memberikan pemahaman pada cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, dan literasi manusia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan penguasaan ilmu desain (Aoun, 2017). Literasi baru yang diberikan diharapkan menciptakan lulusan yang kompetitif dengan menyempurnakan gerakan literasi lama yang hanya fokus pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan matematika.

Adaptasi gerakan literasi baru dapat diintegrasi dengan melakukan penyesuaian kurikulum dan sistem pembelajaran sebagai respon terhadap era industri 4.0. Respon pembelajaran yang perlu dikembangkan untuk SMK adalah pembelajaran abad 21.

0 komentar:

Posting Komentar

Tanggal

Statistik

Popular Posts