BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Teori Belajar
Teori
belajar atau teori perkembangan mental menurut Ruseffendi (1988) adalah berisi
uraian tentang apa yang terjadi dan apa yang diharapkan terjadi terhadap mental
peserta didik. Sementara itu, pengertian tentang belajar itu sendiri
berbeda-beda menurut teori belajar yang dianut seseorang. Menurut pandangan modern
menganggap bahwa belajar merupakan kegiatan mental seseorang sehingga
terjadi perubahan tingkah laku. Perubahan tersebut dapat dilihat ketika siswa
memperlihatkan tingkah laku baru, yang berbeda dari tingkah laku sebelumnya.
Selain itu, perubahan tingkah laku tersebut dapat dilihat ketika seseorang
memberi respons yang baru pada situasi yang baru (Gledler, 1986). Hudoyo (1998)
menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang berlangsung dalam mental seseorang,
sehingga terjadi perubahan tingkah laku, di mana perubahan tingkah laku
tersebut bergantung kepada pengalaman seseorang.
2.2. Teori
Belajar Jerome S. Bruner
A. Biografi J. S. Bruner
Bruner yang
memiliki nama lengkap Jerome S.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari
Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mempelopori aliran psikologi
kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada
pentingnya pengembangan berfikir. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai
perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar, atau memperoleh
pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan. Dasar pemikiran teorinya memandang
bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner
menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk
menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.
2
B. Proses Belajar Mengajar Menurut
Jerome S. Bruner
Pendirian
yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata pelajaran
dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual
kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini
didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang
perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara
lain:Perkembangan intelektual anak
Menurut
penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi
menjadi tiga taraf.
1.
Fase
pra-operasional
Sampai
usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak sekolah.
Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara perasaan
dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum dapat
memahami dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu jumlah
tidak berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk
menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.
2.
Fase operasi
kongkrit,
Pada
taraf ke-2 ini operasi itu “internalized”, artinya dalam menghadapi suatu
masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan perbuatan yang nyata;
ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada taraf operai kongkrit
ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung dihadapinya secara nyata.
Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau
kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya.
3. Fase operasi formal,
Pada taraf
ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan kemungkinan hipotesis dan
tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya sebelumnya.
3
Menurut
Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:
1. Tahap informasi (tahap penerimaan
materi)
Dalam tahap
ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi
yang sedang dipelajari.
2. Tahap transformasi (tahap pengubahan
materi)
Dalam tahap
ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau
ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual.
3. Tahap evaluasi
Dalam tahap
evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah
ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah
yang dihadapi.
a. Kurikulum Spiral
J. S. Bruner
dalam belajar matematika menekankan pendekatan dengan bentuk spiral. Pendekatan
spiral dalam belajar mengajar matematika adalah menanamkan konsep dan dimulai
dengan benda kongkrit secara intuitif, kemudian pada tahap-tahap yang lebih
tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa) konsep ini diajarkan dalam bentuk yang
abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika.
Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara intuitif keanalisis dari
eksplorasi kepenguasaan. Misalnya, jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya
menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya.
Contoh
himpunan tiga buah mangga. Untuk menanamkan pengertian 3 diberikan 3 contoh
himpunan mangga. Tiga mangga sama dengan 3 mangga.[3]
b. Alat-Alat Mengajar
Jerome
Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya.
4
1. Alat untuk menyampaikan pengalaman
“vicarious”.
Yaitu
menyajikan bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka
peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan
melalui film, TV, rekaman suara dll.
2.
Alat model
Yang dapat
memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, misalnya
model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga eksperimen atau demonstrasi,
juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip atau
struktur pokok.
3.
Alat
dramatisasi,
Yakni yang
mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam yang
memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi pengertian tentang suatu
ide atau gejala.
4.
Alat
automatisasi
Seperti
“teaching machine” atau pelajaran berprograma, yang menyajikan suatu
masalah dalam urutan yang teratur dan memberi ballikan atau feedback tentang
responds murid.
C. Aplikasi Teori Bruner Dalam
Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Penerapan
teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1.
Sajikan contoh dan bukan contoh dari
konsep-konsep yang anda ajarkan. Misal : untuk contoh mau mengajarkan bentuk
bangun datar segiempat, sedangkan bukan contoh adalah berikan bangun datar
segitiga, segi lima atau lingkaran.
2.
Bantu si belajar untuk melihat
adanya hubungan antara konsep-konsep. Misalnya berikan pertanyaan kepada
sibelajar seperti berikut ini ” apakah nama bentuk ubin yang sering
digunakan untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin yang dapat
digunakan? 5
3.
Berikan satu pertanyaan dan biarkan
biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri. Misalnya Jelaskan ciri-ciri/
sifat-sifat dari bangun Ubin tersebut?
4.
Ajak dan beri semangat si belajar
untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya. Jangan dikomentari dahulu
atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar
untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya. (Anita W,1995 dalam Paulina
panen, 2003 3.16)
Berikut ini
disajikan contoh penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran matematika
di sekolah dasar.
1.
Pembelajaran menemukan rumus luas daerah persegi panjang?
Untuk tahap
contoh berikan bangun persegi dengan berbagai ukuran, sedangkan bukan contohnya
berikan bentuk-bentuk bangun datar lainnya seperti, persegipanjang, jajar
genjang, trapesium, segitiga, segi lima, segi enam, lingkaran.
a. Tahap
Enaktif.
Dalam tahap
ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat
dalam memanipulasi (mengotak atik)objek.
a Untuk
gambar a
ukurannya: Panjang = 20 satuan ,
Lebar = 1 satuan
b
ukurannya: Panjang = 10 satuan ,
Lebar = 2 satuan
c ukurannya:
Panjang = 5 satuan , Lebar = 4 satuan
b. Tahap
Ikonik
Dalam tahap
ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana
pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang
dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari
objek-objek yang dimanipulasinya. Penyajian pada tahap ini apat diberikan
gambar-gambar dan Anda dapat berikan sebagai berikut.
6
c. Tahap Simbolis
Dalam tahap
ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi Simbol-simbol atau
lambang-lambang objek tertentu. Siswa diminta untuk mngeneralisasikan
untuk menenukan rumus luas daerah persegi panjang. Jika simbolis ukuran
panjang p, ukuran lebarnya l , dan luas daerah persegi panjang L maka
jawaban yang diharapkan L = p x l satuan. Jadi
luas persegi panjang adalah ukuran panjang dikali dengan ukuran lebar.
Penerapan
teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
- Sajikan contoh dan bukan contoh dari
konsep-konsep yang anda ajarkan.
- Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan
antara konsep-konsep.
- Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa
untuk mencari jawabannya sendiri.
- Ajak dan beri semangat si belajar untuk
memberikan pendapat berdasarkan intuisinya. Jangan dikomentari dahulu atas
jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si
belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
- Tidak semua materi yang ada dalam matematika
sekoah dasar dapat dilakukan dengan metode penemuan.
Menurut Bruner
(dalam Hudoyo,1990:48) belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep
dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari,
serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika
itu.
Bruner
membagi perkembangan intelektual anak dalam tiga kategori, yaitu enaktif,
ikonik dan simbolik (Ruseffendi, 1988). Penjelasan lain, (Dahar, 1989)
mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir
bersamaan, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi informasi dan menguji
relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Bruner
mengemukakan 4 dalil yang penting dalam pembelajaran matematika.
a.
Dalil
Penyusunan.
Konsep dalam matematika akan lebih bermakna jika siswa
mempelajarinya melalui penyusunan representasi obyek yang dimaksud dan
dilakukan secara langsung.
7
Misalnya, jika
seorang guru menjelaskan arti 9 (sembilan), maka seyogianya guru meminta siswa
untuk menyajikan sebuah himpunan yang jumlah anggotanya sembilan. Dari
beberapa pandangan tentang dalil penyusunan Bruner, maka dapat disimpulkan
bahwa siswa hendaknya belajar melalui partisipasi aktif dalam memahami konsep,
prinsip, aturan dan teori. Hal ini dapat diperoleh melalui pengalaman dalam
melakukan eksperimen atau percobaan yang memungkinkan siswa untuk memahami
konsep, prinsip, aturan dan teori itu sendiri.
b. Dalil Notasi.
Notasi memiliki peranan penting dalam
penyajian konsep. Penggunaan notasi dalam menyatakan sebuah konsep tertentu
harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mental anak. Penyajiannya dilakukan
dengan pendekatan spiral, dimana setiap ide-ide matematika disajikan secara
sistematis dengan menggunakan notasi-notasi yang bertiingkat.
c. Dalil Kekontrasan dan
Keanekaragaman.
Konsep
difahami dengan mendalam, diperlukan contoh-contoh yang banyak, sehingga anak
mampu mengetahui karakteristik konsep tersebut.
d.
Dalil
Pengaitan.
Materi dalam
pelajaran matematika dikenal dengan hirarki yang sangat ketat. Suatu topik akan
menjadi sulit dipahami oleh siswa manakala belum menguasai materi prasarat yang
dibutuhkan. Dengan kata lain bahwa kaitan antara satu konsep dengan konsep yang
lain, satu dalil dengan dalil yang lain, satu topik dengan topik yang lain dan
satu teori dengan teori yang lain sangat erat. Pengertian tersebut menunjukkan
bahwa siswa harus diberi kesempatan sebanyak-banyaknya dalam melihat atau
mengkaji kaitan antara suatu topik dengan topik yang lain atau satu konsep
dengan konsep yang lain, yang dipelajarinya.
2.3 . Teori
Belajar Robert M. Gagne
Sebagaimana tokoh-tokoh lainnya
dalam psikologi pembelajaran, Gagne
berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun
yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. 8
Lingkungan indiviu seseorang meliputi lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang
akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan
menentukan akan menjadi apa ia nantinya.
Bagi Gagne, belajar tidak dapat
didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan
perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang.
Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.
Menurut Gagne, ada tiga elemen
belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang
melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi. Selanjutnya, Gagne juga
mengemukakan tentang sistematika delapan tipe belajar, sistematika lima jenis
belajar, fase-fase belajar, implikasi dalam pembelajaran, serta
aplikasi dalam pembelajaran.
Terdapat 2 tipe
belajar yang dikemukakan oleh Gagne yang erat kaitannya dengan pendekatan
pengajuan masalah matematika, yaitu:
a. Rangkaian verbal (verbal chaining).
Rangkaian
verbal dalam pembelajaran matematika dapat berarti mengemukakan pendapat yang
berkaitan dengan konsep, simbol, definisi, aksioma, lemma atau teorema, dalil
atau rumus. Sedangkan pengertian rangkaian verbal itu sendiri menurut
Ruseffendi (1988) adalah perbuatan lisan terurut dari dua rangkaian kegiatan
atau lebih stimulus respons. Dengan memperhatikan pengertian di atas, maka
dapat dikatakan bahwa tipe belajar rangkaian verbal dapat mengantarkan siswa
dalam mengaitkan antara skemata yang telah dimiliki siswa dengan unsur-unsur
dalam matematika yang akan dipelajarinya.
b. Pemecahan Masalah (Problem solving).
Pengajuan masalah merupakan langkah
kelima setelah empat langkah Polya dalam pemecahan masalah matematika
(Gonzales, 1996).
9
Berkaitan dengan
pandangan ini, Brown dan Walter (1993) menjelaskan bahwa dengan melihat
tahap-tahap kegiatan antara pengajuan dan pemecahan masalah, maka pada dasarnya
pembelajaran dengan pengajuan masalah matematika merupakan
pengembangan dari pembelajaran dengan pemecahan masalah matematika.
Dukungan lain mengenai keeratan hubungan antara kedua pendekatan yang dimaksud
di atas adalah tuntutan kemampuan siswa untuk memahami masalah, merencanakan
dan menjalankan strategi penyelesaian masalah. Ketiga langkah tersebut juga
merupakan langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan pengajuan
masalah matematika (Silver et al., 1996). Selain itu, Cars (dalam Sutawidjaja,
1998) menegaskan bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah
matematika, maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan jalan
membiasakan siswa mengajukan masalah, soal, atau pertanyaan matematika sesuai
dengan situasi yang diberikan oleh guru. Menurut Gagne belajar matematika
terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung.
objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah,
ketekunan, ketelitian, disiplin diri, bersikap positif terhadap matematika.
Sedangkan
objek tak langsung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip.
a) Fakta
Fakta adalah
konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti simbol-simbol matematika.
Fakta bahwa 2 adalah simbol untuk kata ”dua”, simbol untuk operasi penjumlahan
adalah ”+” dan sinus suatu nama yang diberikan untuk suatu fungsi trigonometri.
Fakta dipelajari dengan cara menghafal, drill, latiahan, dan permainan.
b) Keterampilan (Skill)
Keterampilan
adalah suatu prosedur atau aturan untuk mendapatkan atau memperoleh suatu hasil
tertentu. contohnya, keterampilan melakukan pembagian bilangan yang cukup
besar, menjumlahkan pecahan dan perkalian pecahan desimal. Para siswa
dinyatakan telah memperoleh keterampilan jika ia telah dapat menggunakan
prosedur atau aturan yang ada dengan cepat dan tepat.keterampilan menunjukkan
kemampuan memberikan jawaban dengan cepat dan tepat.
10
c) Konsep
Konsep
adalah ide abstrak yang memunkinkan seseorang untuk mengelompokkan suatu objek
dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh dari
ide abstrak tersebut. Contoh konsep himpunan, segitiga, kubus, lingkaran.
siswa dikatakan telah mempelajari suatu konsep jika ia telah dapat
membedakan contoh dan bukan contoh. untuk sampai ke tingkat tersebut, siswa
harus dapat menunjukkan atribut atau sifat-sifat khusus dari objek yang
termasuk contoh dan yang bukan contoh.
Prinsip
adalah pernyataan yang memuat hubungan antara dua konsep atau lebih. Prinsip
merupakan yang paling abstrak dari objek matematika yang berupa sifat atau
teorema. Contohnya, teorema Pytagoras yaitu kuadrat hipotenusa pada
segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat dari dua sisi yang lain. Untuk
mengerti teorema Pytagoras harus mengetahui konsep segitiga siku-siku, sudut
dan sisi. Seorang siswa dinyatakan telah memahami prinsip jika ia dapat
mengingat aturan, rumus, atau teorema yang ada; dapat mengenal dan memahami
konsep-konsep yang ada pada2. Teori Robert. M Gagne
Asumsi yang
mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal
yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar
dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal
adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
(1)
motivasi; (4) penyimpanan; (5)
ingatan kembali;
(2)
pemahaman; (6)
generalisasi; (7) perlakuan dan
(3)
pemerolehan; (8) umpan balik.
A. Sistematika ”Delapan
TipeBelajar”
Menurut Robert M. Gagne, ada 8 tipe belajar, yaitu:
11
1. Tipe belajar
tanda (Signal learning)
Belajar dengan cara ini dapat
dikatakan sama dengan apa yang dikemukakan oleh Pavlov. Semua jawaban/respons
menurut kepada tanda/sinyal.
2. Tipe belajar
rangsang-reaksi (Stimulus-response learning)
Tipe ini hampir serupa dengan
tipe satu, namun pada tipe ini, timbulnya respons juga karena adanya dorongan
yang datang dari dalam serta adanya penguatan sehingga seseorang mau melakukan
sesuatu secara berulang-ulang.
3. Tipe belajar
berangkai (Chaining Learning)
Pada tahap ini terjadi
serangkaian hubungan stimulus-respons, maksudnya adalah bahwa suatu respons
pada gilirannya akan menjadi stimulus baru dan selanjutnya akan menimbulkan
respons baru.
4. Tipe belajar
asosiasi verbal (Verbal association learning)
Tipe ini berhubungan dengan
penggunaan bahasa, dimana hasil belajarnya yaitu memberikan reaksi verbal pada
stimulus/perangsang.
5. Tipe belajar
membedakan (Discrimination learning)
Hasil dari tipe belajar ini
adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antar objek-objek yang terdapat dalm
lingkungan fisik.
6. Tipe belajar
konsep (Concept Learning)
Belajar pada tipe ini terutama
dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman atau pengertian tentang suatu yang
mendasar.
7. Tipe belajar
kaidah (Rule Learning)
Tipe belajar ini menghasilkan
suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep.
12
8. Tipe belajar
pemecahan masalah (Problem solving)
Tipe belajar ini menghasilkan
suatu prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.
B. Sistematika “Lima Jenis
Belajar”
Sistematika ini tidak jauh berbeda dengan sistematika delapan tipe belajar,
dimana isinya merupakan bentuk penyederhanaan dari sistematika delapan tipe
belajar. Uraian tentang sistematika lima jenis belajar ini memperhatikan pada
hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar ini merupakan kemampuan
internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang
tersebut melakukan sesuatu yang dapat memberikan ptrestasi tertentu.
Sistematika ini mencakup semua hasil belajar yang dapat diperoleh, namun
tidak menunjukkan setiap hasil belajar atau kemampuan internal satu-persatu.
Akan tetapi memgelompokkan hasil-hasil belajar yang memiliki ciri-ciri sama dalam
satu kategori dan berbeda sifatnya dari kategori lain. Maka dapat dikatakan,
bahwa sistematika Gagne meliputi lima kategori hasil belajar.
Kelima kategori hasil belajar
tersebut adalah informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan
kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
1. Informasi
verbal (Verbal information)
Merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam
bentuk bahasa, lisan, dan tertulis. Pengetahuan tersebut diperoleh dari sumber
yang juga menggunakan bahasa, lisan maupun tertulis. Informasi verbal meliputi
”cap verbal” dan ”data/fakta”. Cap verbal yaitu kata yang dimiliki seseorang
untuk menunjuk pada obyek-obyek yang dihadapi, misalnya ’kursi’. Data/fakta
adalah kenyataan yang diketahui, misalnya ’Ibukota negara Indonesia adalah
Jakarta’.
2. Kemahiran
intelektual (Intellectual skill)
Yang dimaksud adalah kemampuan
untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk
suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang/simbol (huruf, angka,
kata, dan gambar).
Kategori kemahiran intelektual
terbagi lagi atas empat sub kemampuan, yaitu:
13
a. Diskriminasi
jamak,
Yaitu kemampuan seseorang dalam mendeskripsikan benda yang dilihatnya.
b. Konsep,
Ialah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri sama.
Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan.
Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada obyek-obyek dalam
lingkungan fisik. Konsep yang didefinisiskan adalah konsep yang mewakili
realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan
hidup fisik.
c. Kaidah,
Yaitu kemampuan seseorang untuk menggabungkan dua konsep atau lebih sehingga
dapat memahami pengertiannya.
d. Prinsip.
Dalam prinsip telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga
terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks.
Berdasarkan prinsip tersebut, seseorang mampu memecahkan suatu permasalahan,
dan kemudian menerapkan prinsip tersebut pada permasalahan yang sejenis.
3. Pengaturan
kegiatan kognitif (Cognitive strategy)
Merupakan suatu cara seseorang
untuk menangani aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri, sehingga ia
menggunakan cara yang sama apabila menemukan kesulitan yang sama.
4. Keterampilan
motorik (Motor skill)
Adalah kemampuan seseorang dalam
melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan
mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.
5. Sikap
(Attitude)
Merupakan kemampuan seseorang
yang sangat berperan sekali dalam mengambil tindakan, apakah baik atau buruk
bagi dirinya sendiri.
14
C. Fase-Fase Belajar
Fase-fase belajar ini berlaku bagi semua tipe belajar. Menurut Gagne, ada 4
buah fase dalam proses belajar, yaitu:
1. Fase penerimaan (apprehending phase)
Pada fase ini, rangsang diterima
oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah. Pertama timbulnya
perhatian, kemudian penerimaan, dan terakhir adalah pencatatan (dicatat dalam
jiwa tentang apa yang sudah diterimanya).
2. Fase penguasaan (Acquisition phase)
Pada tahap ini akan dapat dilihat
apakah seseorang telah belajar atau belum. Orang yang telah belajar akan dapat
dibuktikannya dengan memperlihatkan adanya perubahan pada kemampuan atau sikapnya.
3. Fase pengendapan (Storage phase)
Sesuatu yang telah dimiliki akan
disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat digunakan bila diperlukan. Fase
ini berhubungan dengan ingatan dan kenangan.
4. Fase pengungkapan kembali (Retrieval phase)
Apa yang telah dipelajari,
dimiliki, dan disimpan (dsalam ingatan) dengan maksud untuk digunakan
(memecahkan masalah) bila diperlukan. Jika kita akan menggunakan apa yang
disimpan, maka kita harus mengeluarkannya dari tempat penyimpanan tersebut, dan
inilah yang disebut dengan pengungkapan kembali. Fase ini meliputi penyadaran
akan apa yang telah dipelajari dan dimiliki, serta mengungkapkannya dengan
kata-kata (verbal) apa yang telah dimiliki tidak berubah-ubah.
Menurut Gagne, fase pertama dan
kedua merupakan stimulus, dimana terjadinya proses belajar,sedangkan pada
fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar.
D. Implikasi
Teori Gagne dalam Pembelajaran
- Mengontrol perhatian siswa.
- Memberikan informasi kepada
siswa mengenai hasil belajar yang diharapkan guru.
- Merangsang dan mengingatkan
kembali kemampuan-kemampuan siswa.
- Penyajian stimuli yang tak
bisa dipisah-pisahkan dari tugas belajar.
- Memberikan bimbingan
belajar.
- Memberikan umpan balik.
- Memberikan kesempatan pada
siswa untuk memeriksa hasil belajar yang telah dicapainya. 15
- Memberikan kesempatan untuk
berlangsungnya transfer of learning.
- Memberikan kesempatan untuk
melakukahn praktek dan penggunaan kemampuan yang baru diberikan.
E. Aplikasi Teori Gagne
dalam Pembelajaran
Karakteristik materi matematika yang berjenjang
(hirarkis) memerlukan cara belajar yang berjenjang pula. Untuk memahami suatu
konsep dan/atau rumus matematika yang lebih tinggi, diperlukan pemahaman yang
memadai terhadap konsep dan/atau rumus yang ada di bawahnya.
2.4 Analisis Penerapan Belajar Menurut Bruner
Bruner
menjadi sangat terkenal karena dia lebih peduli terhadap proses belajar
daripada hasil belajar,metode yang digunakannya adalah metode Penemuan (discovery
learning).Discovery learning dari Bruner merupakan model pengajaran yang
dikembangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan
prinsip-prinsip konstruktivitas.
Dalam Teori
Bruner dengan metode Penemuan (discovery learning), kekurangannya tidak bisa
digunakan pada semua materi dalam matematika hanya beberapa materi saja yang
dapat digunakan dengan metode penemuan.
Teori
belajar matematika menurut J.S. Bruner tidak jauh berbeda dengan teori J.
Piaget. Menurut teori J.S. Bruner langkah yang paling baik belajar matematika
adalah dengan melakukan penyusunan presentasinya, karena langkah permulaan
belajar konsep, pengertian akan lebih melekat bila kegiatan-kegiatan yang
menunjukkan representasi (model) konsep dilakukan oleh siswa sendiri dan antara
pelajaran yang lalu dengan yang dipelajari harus ada kaitannya
Menurut
Bruner, agar proses mempelajari sesuatu pengetahuan atau kemampuan berlangsung
secara optimal, dalam arti pengetahuan taua kemampuan dapat diinternalisasi
dalam struktur kognitif orang yang bersangkutan. Kemampuan tersebut dibagi dalam
3 tahap yaitu, tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik.
16
2.5 Penerapan
Teori Gagne dalam Pembelajaran
Teori
belajar Gagne dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Ada
beberapa pendekatan dan langkah-langkah agar bisa menerapkan teori tersebut
dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan
konsep Sembilan Kondisi Intruksional Gagne maka kita bisa menyusun rancangan
kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
1. Memperoleh Perhatian
Kegiatan ini merupakan proses guru
dalam memberikan stimulus kepada siswa dengan cara meyakinkan siswa bahwa
mempelajari materi tersebut itu penting. Hal ini bisa dilakukan melalui
pertanyaan-pertanyaan ringan seputar materi yang akan disajikan.
Contoh : Mengenalkan hutan dengan cara mengajak siswa TKA seolah-olah kemping.
Dengan mendekorasi ruangan kelas seperti hutan (tanaman dengan pot yang ditutup
kain atau kertas, batu batuan, bunga, ranting dll). Hari sebelumnya, Guru
meminta siswa membawa peralatan dan perlengkapan berkemah seperti makanan,
pakaian, sepatu, tas ransel, senter, dll. Ketika kegiatan ini dilaksanakan
biarkan siswa memperlihatkan kemampuan menolong dirinya sendiri serta
bersosialisasi dengan temannya. Kenalkan hutan melalui temuan-temuan siswa/yang
dilihat siswa di hutan (ruangan yang sudah disiapkan) dan cocokkan dengan buku
tentang hutan yang dibawa guru. Ajak siswa mendengarkan bunyi-bunyian yang
berkaitan, misalnya rekaman air dan suara binatang. Lampu dapat dimatikan
seolah-olah malam hari di hutan. Untuk siswa TKB, dapat diajak langsung melihat
hutan (misalnya ke hutan di Cibubur), memasang tenda sungguhan dan berkemah
(sekitar 1 jam). Ajak pula siswa menonton film dokumenter tentang hutan.
2. Memberikan Informasi Tujuan
Pembelajaran
Dalam hal
ini guru harus mengupayakan untuk memberitahu siswa akan tujuan pembelajaran.
Sehingga siswa mengetahui tujuan dari materi pembelajaran yang dipelajarinya.
Ini sangat penting dilakukan agar siswa lebih termotivasi untuk bisa mencapai
tujuan pembelajaran. Contoh: Kegiatan diawali dengan tanya jawab, untuk
mengetahui sejauh mana kemampuan siswa, dilanjutkan menyampaikan tujuan
pembelajaran. Sebelum kegiatan berkemah, guru mengadakan tanya jawab dengan
siswa. Seperti mengatakan “Siapa yang pernah ke hutan?” “Seperti apa ya hutan
itu?”
17
3. Merangsang siswa untuk mengingat
kembali apa yang telah dipelajari
Upaya
merangsang siswa dalam mengingat materi yang lalu bisa dilakukan dengan cara
bertanya tentang materi yang telah diajarkan. Contoh: Di pertemuan berikutnya,
untuk mengingat kembali pengetahuan tentang hutan, ajak siswa TKA
mengklasifikasikan kepingan gambar yang disediakan. Menklasifikasikan gambar
yang berkaitan dengan hutan dengan yang bukan hutan. Untuk siswa TKB kegiatan
dapat berupa mengklasifikasikan kepingan gambar misalnya ke dalam kelompok
binatang, tanaman, bunga. Atau dapat berupa klasifikasi benda hidup dan benda
mati.
4. Menyajikan stimulus
Menyajikan
stimulus bisa dilakukan dengan cara guru menyajikan materi pembelajaran secara
menarik dan menantang. Sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran
yang sedang berlangsung. Contoh: Guru menyampaikan materi “hutan” dengan
bercerita menggunakan wayang hutan (dibuat sendiri, berupa gambar-gambar
seperti : pohon, binatang, jamur, batu, matahari, air dll yang diberi tongkat).
Guru juga mengajak siswa ikut memainkan wayang yang disediakan.
5. Memberikan bimbingan kepada siswa
Seharusnya
guru harus membimbing siswa dalam proses belajarnya. Sehingga siswa dapat
terarah dalam pembelajarannya. Contoh: Kegiatan berupa membuat peta pikiran di
atas sebuah kertas besar atau papan tulis dengan spidol warna warni. Guru
menuliskan kata “hutan” di tengah papan. Ajukan pertanyaan misalnya “Kalau
mendengar kata hutan, apa yang terlintas di pikiranmu?” Biarkan siswa menjawab
dan tuliskan /gambarkan jawaban siswa. Tidak ada jawaban salah. Arahkan siswa
ke pada tema kali ini. Misalnya ketika siswa menjawab “Harimau.” Guru dapat
balik bertanya “Kenapa harimau?” siswa menjawab “Kan adanya di hutan.” dan
seterusnya. Atau siswa lain mengatakan pendapatnya tentang hutan, siswa
tersebut mengatakan “Takut” Guru dapat menayakan “Kenapa takut?” Misalnya siswa
menjawab “Gelap” Guru dapat menanyakan “Kenapa gelap? Misalnya siswa menjawab
“banyak pohon.” dan seterusnya. Dalam kegiatan ini, dapat juga menggunakan
potongan-potongan gambar dari koran atau majalah atau clip-art dan lain-lain.
18
6. Memberikan Balikan
Memberikan
feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil
belajarnya benar atau tidak. Contoh: Berkaitan dengan poin sebelumnya yaitu
memperoleh unjuk kerja siswa, guru dapat memberikan balikan atas hasil karya
yang siswa buat. Misalnya, ketika siswa menunjukkan maket hutan buatannya, guru
dapat mengajukan pujian atau mengajukan beberapa pertanyaan yang memancing
siswa menceritakan hasil karyanya. Misalnya ketika siswa membuat gajah berkaki
dua guru dapat bertanya “Ini apa?” “Menurutmu kaki gajah ada berapa?” jika
siswa mengalami kesulitan, ajak siswa melihat buku, gambar atau foto gajah
hingga siswa memahami.
7. Menilai Hasil Belajar
Menilai
hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah
ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal. Minta
siswa memilih sebuah kartu kata atau gambar berkaitan dengan hutan (siapkan
kata atau gambar yang berbeda sejumlah siswa). Misalnya gambar pohon, batu,
jamur dll. Ajak siswa bercerita di depan kelas sekitar 1-2 menit mengenai kata
atau gambar tersebut. Guru dapat merekam cerita siswa tersebut dan memutarnya
kembali setelah siswa selesai bercerita. Ajak siswa mendengarkan suaranya
sendiri. Kegiatan ini juga mengajak siswa lainnya belajar menghargai temannya
yang sedang bercerita.
8. Mengusahakan Transfer
Mengusahakan
transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa
yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam
situasi-situasi lain. Contohnya: Ajak siswa membaca/melihat gambar/mendengar
guru membacakan koran anak (misalnya dalam lembar anak Koran Kompas edisi
Minggu, Desember 2007 tentang pemanasan global). Ajak siswa kembali mengingat
tema hutan dengan mengajak siswa menanam biji dari buah yang biasa mereka makan
dan jadikan ini proyek berkelanjutan (menanam dan merawat pohon yang nantinya
tumbuh).
Kelebihan Teori Sembilan Intruksional Gagne:
a)
Gagne disebut sebagai modern
noebehaviouristik mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana
dan gaya belajar dapat dimodifikasi.
b)
Sangat cocok untuk memperoleh
kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur
seperti kecepatan spontanitas kelenturan reflek, dan daya tahan Contoh :
Percakapan bahasa Asing, menari, mengetik, olah raga, dll.
c)
Cocok diterapkan untuk melatih
anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan
langsung seperti diberi hadiah atau pujian.
d)
Dapat dikendalikan melalui cara
mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan
pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia
dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Kekurangannya:
a)
Pembelajaran siswa yang berpusat
pada guru (teacher centered learning), dimana guru bersifat otoriter,
komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus
dipelajari murid.
b)
Bersifat meanistik
c)
Hanya berorientasi pada hasil yang
diamati dan diukur
d)
Murid hanya mendengarkan dengan
tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai
cara belajar yang efektif.

Teori
belajar BRUNER
19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam mempelajari ilmu
pendididkan, sering dikemukakan pertanyaan berupa ”mengapa seseorang perlu
belajar?” untuk menjawab pertanyaan ini, sepertinya kita sependapat bahwa di
dunia ini tak ada makhluk hidup yang ketika baru dilahirkan dapat melakukan
segala sesuatu dengan sendirinya, begitu juga dengan manusia. Sejak ia bayi,
bahkan ketika dewasa pun, ia pasti membutuhkan bantuan orang lain.
Jika bayi manusia yang baru
dilahirkan tidak mendapat bantuan dari manusia dewasa lainnya, tentu ia akan
binasa. Ia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak dididik oleh
manusia. Oleh karena itu, manusia disebut sebagai makhluk sosial. Selain itu, manusia
juga makhluk berbudaya, sehingga belajar merupakan kebutuhan yang vital sejak
manusia dilahirkan. Manusia selalu memerlukan dan melakukan perbuatan belajar
kapan saja dan dimana saja ia berada.
Banyak ilmuan yang telah
menemukan teori belajar. Salah satu teori belajar tersebut adalah teori belajar
dari Robert M. Gagne, yang akan kami bahas dalam maklah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakng tersebut, rumusan masalah yang kami buat adalah:
a. Bagaiman
teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne?
b. Bagaimana implikasi
dan aplikasi teori Gagne dalam
pembelajaran?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah:
a. Untuk
mengetahui dan memahami teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne.
b. Untuk
mengetahui dan memahami implikasi dan aplikasi reori Gagne dalam pembelajaran.
1
DAFTAR
PUSTAKA
Mulyati, Psikologi Belajar, Yogyakarta:
C.V. Andi Offset. 2005
Nasution, S., Berbagai Pendekatan
dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara. 2000
Simanjutak, Lisnawaty, Metode Mengajar
Matematika, Jakarta: PT Rineka Cipta. 1993
Soemanto, Wasty, Psikologi
Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta.
1998
Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006
http://www.manmodelgorontalo.com
[1] Prof. Dr.
S. Nasution, M.A., Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar
(Jakarta: Bumi Aksara. 2000) hal.7-8
[2] Muhibbin
Syah, M.Ed., Psikologi Belajar ,……..hal.110
[3] Dra.
Lisnawaty Simanjutak, dkk., Metode Mengajar Matematika (Jakarta: PT
Rineka Cipta. 1993) hal.70-71
[4] Prof. Dr.
S. Nasution, M.A., Berbagai Pendekatan ……. hal.15
20
MAKALAH
TEORI GAGRE
DAN BRUNER
Mata Kuliah :
TEORI BELAJAR
Dosen Pengampu : Buk RAFIKA RAHMADHANI,M.Si

Kelompok 4
Prodi Pendidikan
Ekonomi C3 Semester 4
Disusun Oleh:
1.
ALI
AKBAR :1787203022
2.
ATIKA
SABELA :1787203032
3.
TOKINGLI
INDOMARCO :1787203126
4.
WAHYU
DANINGTIAS :
1787203134
5.
WISMA
DWI YANI :1787203139
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
NURUL HUDA
TAHUN AKADEMIK 2019
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah yang
bertema ”Permintaan dan Penawaran”, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang saya
miliki. Dan juga kami berterima kasih kepada dosen pengampu Ibu RAFIKA
RAHMADHANI,M,Si selaku Dosen mata kuliah Teori Belajar yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
Makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan di masa depan.
RAWABENING, 21 April 2019
Penyusun,
i
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR………….……………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………….……………………………………………………………....ii
BAB 1 PENDAHULUAN….………………………………………………………………...1
1.1 Latar Belakang Masalah.……………………………………………………………..........1
1.2 Rumusan Masalah.………………………………………………………………………...1
1.3 Tujuan Masalah….………………………………………………………………………...1
1.4 Manfaat
Makalah..................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………......2
2.1 Pengertian Teori Belajar...........................
.………….…………………………………....2
2.2 Teori Belajar Jerome S. Bruner...........................…….………………...............................2
2.3 Teori Belajar Robert M.
Gagne....................................................………………………...8
2.4. Analisis Penerapan Belajar Menurut Bruner.....................................……........................17
2.5 . Penerapan
Teori Gagne dalam Pembelajaran..........................………………............................................…….…………….18
BAB III PENUTUP……………………………………………………….………………...19
A. Kesimpulan……………………………………………………………….……………....19
B Saran ……………………………………………………………………….………….....19
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….………........20
ii

0 komentar:
Posting Komentar