BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia memperoleh sebagian besar
dari kemampuannya melalui belajar. Belakang. Manusia memperoleh sebagian besar
dari kemampuannya melalui belajar. Belajar merupakan proses aktif yang
dilakukan oleh peserta didik dalam rangka membangun pengetahuannya. Belajar
bukanlah proses pasif yang hanya menerima pengetahuan dari guru atau
sumber-sumber lain. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk berperan aktif maka pembelajaran tersebut bertentangan
dengan hakikat belajar.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan PAIKEM?
2. Bagaimana konsep pembelajaran PAIKEM?
3. Bagaimana implementasi pembelajajaran
PAIKEM?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian PAIKEM,
2. Untuk mengetahui konsep pembelajaran PAIKEM,
3. Untuk mengetahui implementasi pembelajaran
PAIKEM.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM merupakan model pembelajaran dan menjadi
pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (Rusman,
2010:322). Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan berkembangnya
berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Pembelajaran merupakan implementasi
kurikulum di sekolah dari dari kurikulum yang sudah dirancang dan menuntut aktivitas
dan kreativitas guru dan siswa sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan
secara efektif dan menyenangkan. Ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Brooks
(Rusman, 2010;323), yaitu “ pembaruan dalam harus dimulai dari bagaimana anak
belajar, dan bagaimana guru mengajar, bukan dari ketentuan hasil.”
Guru harus mengambil keputusan
atas dasar penilaian yang tepat ketika siswa belum dapat membentuk kompetensi
dasar dan standar kompetensi berdasarkan interaksi yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan suasana
pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan supaya kompetensi dasar
dan standar kompetensi yang telah di rancang dapat tercapai. Guru juga harus
ditutut agar melakukan inovasi dalam segala hal yang berkaitan dengan
kompetensi yang disandangnya seperti inovasi dalam pembelajaran.
B. Konsep Pembelajaran PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran
guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses
aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif
yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran
tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka
pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Maksud pembelajaran
Aktif adalah dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga siswa dapat berperan aktif untuk bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan atau ide dalam suasana
belajar-mengajar. Belajar aktif adalah mempelajari dengan cepat, menyenangkan,
penuh semangat, dan keterlibatan aktif. Pembelajaran aktif atau sering dikenal
dengan active learning adalah proses belajar dimana peserta didik mendapat
kesempatan unbtuk lebih banyak melakukan aktivitas belajar, berupa hubungan
interaktif dengan materi pelajaran sehingga terdorong untuk menyimpulkan
pemahaman daripada hanya sekedar menerima pelajaran yang diberikan. Meyer &
Jones (1993) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran aktif terjadi aktivitas
berbicara dan mendengar, menulis, membaca, dan refleksi yang menggiring ke arah
pemaknaan mengenai isi pelajaran, ide-ide, dan berbagai hal yang berkaitan
dengan satu topik yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran aktif, guru lebih
berperan sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu.
Pembelajaran
aktif mempunyai beberapa karakteristik yaitu; a) Refleksi yang dilakukan dengan
cara mengungkapkan pengalaman kepada teman dan guru berpotensi membuka ruang
dialog di dalam kelas sehingga memungkinkan muncul pengalaman atau pengetahuan
baru (Fink, 2003), b) Pengamatan terhadap beberapa model atau contoh yang
memberikan kesempatan pada siswa untuk melihat dan mengetahui, c) Pemecahan
masalah yang disajikan memungkinkan siswa berada di dalam kondisi higher-order
thinking (Bonwell & Eison, 1991), d) Vicarious learning yang diperoleh pada
saat siswa menyaksikan perdebatan mengenai topik tertentu, dan e) Self
explanation adalah suatu proses menjelaskan mengenai pemahaman siswa, baik
kepada temannya maupun guru yang memungkinkan terjadinya pemahaman yang lebih
kuat.
Pembelajaran
kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat
memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung,
dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja
kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Pembelajaran kreaktif menuntut
guru untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan
berpikir maupun dalam melakuakan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu
dimulai dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu
yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kritis harus
dikembangkan dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan
kreativitasnya. Pada umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagi
berikut ( Mulyasa, 2006: 192), yaitu:
a.
Tahapan pertama; persiapan, yaitu proses
pengumpulan informasi untuk diuji.
b.
Tahap kedua; inkubasi, yaitu suatu rentang waktu
untuk merenungkan hipotesis informasi
tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional.
c.
Tahap ketiga; iluminasi, yaitu suatu kondisi
untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional
d.
Tahap keempat; verifkasi, yaitu pengujian
kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau teori.
Siswa dikatakan kreatif apabila
mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh
dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil
karya baru.
Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar
yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada
belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut
hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil
belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran
tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah
proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan
pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan
tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain
biasa.
Pembelajaran efektif merupakan
kriteria penting dalam setiap pembelajaran. Pembelajaran yang efktif adalah
pembelajaran yang mendidik, yang secara serentak dapat memenuhi dua sisi penting
dari tujuan pendidikan di sekolah, yakni:
1.
Memiliki/menguasai ilmu pengetahuan,teknologi,
dan seni (IPTEKS), dan
2.
membangun diri pribadi sebagai pemanggung
eksistensi manusia.
Pendidikan
Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bagsa,
betujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi menusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
beriman, cakap, kreatif mensiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
PAIKEM merupakan sebuah model pembelajaran
kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses
pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif
dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua,
proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan
guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi
role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang
kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah
lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan
melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan
dan/atau wawancara).
Pelaksanaan
Paikem harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan
semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum
Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial
dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar
siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat
suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar
dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada
‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami
kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu
merancang media, metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan
dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa. Selain itu
pembelajaran inovatif juga di perlukan, Pembelajaran inovatif dapat dilakukan
dengan cara mengadaptasi model-model pembelajaran menyenangkan yang bisa
membuat siswa terbebas dari kejenuhan-kejenuhan pemnbelajaran. Guru mencoba
untuk menanamkan pemikiran “Learning is fun” kepada para peserta didiknya.
Secara garis
besar, PAIKEM dapat dideskripsikan sebagai berikut: Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan
yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan
mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
· Guru menggunakan berbagai alat bantu
dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan
sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan
cocok bagi siswa.
1.
Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku
dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
2.
Guru menerapkan cara mengajar yang lebih
kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok
3.
Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya
sendiri dalam pemecahan masalah, untuk
mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan
sekolahnya.
C. Implementasi Pembelajaran
PAIKEM
a. Desain
Pesan Pembelajaran PAIKEM
Kata desain
menunjukkan adanya suatu proses dan suatu hasil. Sebagai suatu proses, desain
pesan sengaja dilakukan mulai dari analisis masalah pembelajaran hingga
pemecahan masalah yang disumuskan dalam bentuk produk. Produk yang dihasilkan
dapat dalam bentuk prototipe, naskah atau stori board, dan sebagainya.
Mengenai desain pesan, desain
pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau
informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya
serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi, agar
terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima. Fleming dan Levie (dalam
Seel&Richie,1994) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang
memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan
dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual,
urutan, halaman dan layar secara terpisah. Karakteristik lain dari desain pesan
adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik baik terhadap medianya maupun
tugas belajarnya. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip-prinsip desain pesan
akan berbeda tergantung apakah medianya bersifat statis, dinamis atau kombinasi dari keduanya, misalnya suatu
potret, film, atau grafik komputer. Juga apakah tugas belajarnya berupa
pembentukan konsep atau sikap, pengembangan ketrampilan atau strategi belajar,
ataukah menghafalkan informasi verbal.
b. Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran
Berdasarkan
pada pembahasan tentang teori-teori belajar kognitif dan teori pemrosesan
informasi serta teori komunikasi, dapat dikembangkan beberapa prinsip yang
dapat dijadikan pedoman dalam kegiatan desain pesan pembelajaran. Ada lima
prinsip utama desain pesan pembelajaran yaitu:
1)
Prinsip kesiapan dan motivasi
Prinsip ini
mengatakan bahwa jika dalam kegiatan pembelajaran siswa/peserta belajar memilki
kesiapan seperti kesiapan mental, serta kesiapan fisik dan motivasi tinggi,
maka hasil belajar akan lebih baik. Kesiapan mental diartikan sebagai kesipan
kemampuan awal, yaitu pengetahuan yang telah dimiliki siswa belajar yang dapat
dijadikan pijakan untuk mempelajari materi baru. Oleh sebab itu, dalam menyusun
desain pesan, guru harus lebih dahulu mengetahui kesiapan siswa melalui tes
penjajagan atau tes prasayarat belajar yang diberikan pada siswa. Jika
diketahui pengetahuan awal siswa belum mencukupi, maka dapat diadakan
pembekalan/matrikulasi.
Sedangkan kesiapan fisik, berarti
bahwa siswa dalam melakukan kegiatan belajar tidak mengalami kekurangan atau
halangan, sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil
belajar. Misalnya untuk belajar musik siswa tidak boleh terganggu
pendengarannya. Sedangkan motivasi adalah merupakan dorongan yang menyebabkan
seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dorongan itu bisa
berasal dari dalam atau luar. Semakin tinggi motivasi siswa untuk belajar,
semakin tinggi pula proses dan hasil belajarnya. Oleh karena itu, dalam
kegiatan pembelajaran hendaknya guru berupaya mendorong motivasi siswa dengan
menunjukkan pentingnya mempelajari pesan pembelajaran yang sedang dipelajari.
2)
Prinsip penggunaan alat pemusat perhatian
Prinsip ini mengatakan bahwa jika
dalam proses belajar perhatian siswa/si belajar terpusat pada pesan yang
dipelajari, maka proses dan hasil belajar akan semakin baik. Perhatian memegang
peranan penting dalam kegiatan belajar. Semakin baik perhatian siswa, proses
dan hasil belajar akan semakin baik pula.
Cara-cara yang dapat digunakan
untuk mengarahkan perhatian siswa antara lain:
·
Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman atau
kehidupan siswa
·
Menggunakan alat pemusat perhatian seperti peta
konsep, gambar, bagan, dan media-media pembelajaran visual lainnya.
·
Menghubungkan pesan pembelajaran yang sedang
dipelajari dengan topik- topik yang sudah dipelajari.
·
Menggunakan musik penyeling
·
Mencipatakan suasana riang
·
Teknik penyajian yang bervariasi
·
Mengurangi bahan/matteri yang tidak relevan
3)
Prinsip partisipasi aktif siswa
Meliputi aktifitas, kegiatan, atau
proses mental, emosional maupun fisik. Contoh aktifitas mental misalnya
mengidentifikasi, membandingkan, menganalisis, dan sebagainya. Sedangkan yang
termasuk aktifitas emosional misalnya semangat, sikap, positif terhadap
belajar, motivasi, keriangan, dan lain-lain. Contoh aktifitas fisik misalnya
melakukan gerak badan seperti kaki, tangan untuk melakukan ketrampilan
tertentu.
Cara-cara yang dapat digunakan
untuk mengaktifkan siswa adalah:
·
Memberikan pertanyaan-pertanyaan ketika proses
pembelajaran berlangsung
·
Mengerjakkan latihan pada setiap akhir suatu
bahasan
·
Membuat percobaan dan memikirkan atas hipotesis
yang diajukan
·
Membentuk kelompok belajar
·
Menerapkan pembelajaran kontekstual, kooperatif,
dan kolaboratif
4)
Prinsip Umpan Balik
Umpan balik adalah informasi yang
diberikan kepada siswa mengenai keberhasilan atau kekurangan dalam belajarnya.
Upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan umpan balik diantaranya
dengan memberikan soal atau pertanyaan kepada siswa, kemudian memberitahunya
dengan benar. Memberikan tugas, kemudian memberitahukan tugas apakah tugas yang
dikerjakan sudah benar. Kembalikan pekerjaan siswa yang telah dikoreksi,
dinilai, atau diberi komentar/catatan oleh guru.
5)
Prinsip Perulangan
Mengulang-ulang penyajian
informasi atau pesan pembelajaran. Proses penguasaan materi pembelajaran atau
ketrampilan tertentu memerlukan perulangan.. tidak adanya perulangan akan mengakibatkan
informasi atau pesan pembelajaran tidak bertahan lama dalam ingatan, dan
informasi tersebut mudah dilupakan.
Upaya mengulang informasi dapat
dilakukan dengan cara yang sama dan dengan media yang sama. Misalnya media
kaset diputar berulang-ulang, membaca buku dua atau tiga kali. Perulangan dapat
juga dengan cara dan media yang berbeda pula. Misalnya setelah mendengar metode
ceramah, siswa diminta untuk membaca buku dengan topik yang sama. Penggunaan
epitome, advance organizer, rangkuman, atau kesimpulan.
c. Aplikasi Desain Pesan dalam Kegiatan
Belajar Mengajar PAIKEM
Terjadinya
belajar dilihat dari adanya perbedaan kecakapan seseorang antara sebelum dan
sesudah mengalami dan berada dalam situasi belajar tertentu. PAIKEM
memungkinkan pebelajar memperoleh kemampuan berdasarkan teori Gagne yaitu
ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan
motorik, dan sikap. Berikut akan dijelaskan masing-masing definisi kemampuan tersebut,dan pengintregasian
prinsip desain dengan pendekatan PAIKEM akan dijelaskan dalam matrik.
·
Ketrampilan Intelektual yang dimaksud
ketrampilan intelektual adalah kemampuan untuk menggunakan lambang-lambang
seperti bilangan, bahasa, dan lambang-lambang lainnya yang mewakili benda-benda
nyata pada lingkungan individu. Ketrampilan intelektual dibagi menjadi empat
kategori yaitu diskriminasi,konsep,aturan dan pemecahan masalah.
·
Diskriminasi adalah kemampuan untuk memberi
respon yang berbeda terhadap stimuli yang berbeda satu dengan yang lain menurut
satu dimensi fisik atau lebih. Konsep adalah kemampuan yang memungkinkan
individu untuk mengidentifikasi stimulus yang mempunyai karakteristik walaupun
stimulinya berbeda secara menyolok. Aturan adalah subyek dapat merespon
hubungan dan kesatuan obyek. Pemecahan masalah aturan-aturan yang lebih komplek
untuk memecahkan masalah.
·
Strategi kognitif meliputi kemampuan yang
dipergunakan untuk mengelola proses perhatian belajar, mengingat, dan berfikir.
Kemampuan informasi verbal terkait dengan mempelajari fakta-fakta, mempelajari
serangkaian informasi yang terorganisasikan. Ketrampilan sikap adalah keadaan
internal yang komplek yang mempengaruhi pemilihan tingkah laku itu sendiri.
Ketrampilan motorik adalah kemampuan yang dipelajari untuk melakukan kecakapan
yang hasilnya dicerminkan oleh adanya kecakapan, ketepatan, dan kelancaran
gerakan tubuh.
·
d. Penilaian Hasil Belajar.
Sebuah
pertanyaan untuk direnungkan. Apakah sebuah ”Penilaian Mendorong Pembelajaran
?” atau apakah ”pembelajaran itu untuk mempersiapkan sebuah tes ? ” atau apakah
’Pembelajaran dan Tes’ tersebut dilakukan guna mendapatkan pengakuan tentang
kompetensi yang diperlukan siswa atau sekolah? Dalam pelaksanaan konsep PAIKEM,
penilaian dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa, baik itu
keberhasilan dalam proses maupun keberhasilan dalam lulusan (output).
Keberhasilan proses dimaksudkan bahwa siswa berpartisipasi aktif, kreatif dan
senang selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Sedangkan keberhasilan lulusan
(output) adalah siswa mampu menguasai sejumlah kompetensi dan standar
kompetensi dari setiap Mata Pelajaran, yang ditetapkan dalam sebuah kurikulum.
Inilah yang disebut efektif dan menyenangkan. Jadi, penilaian harus dilakukan
dan diakui secara komulatif. Penilaian harus mencakup paling sedikit tiga aspek
: pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ini tentu saja melibatkan Professional
Judgment dengan memperhatikan sifat obyektivitas dan keadilan. Untuk ini,
pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)
merupakan pendekatan penilaian alternatif yang paling representatif untuk
menentukan keberhasilan pembelajaran Model PAIKEM.
Media dan
bahan ajar. ”Media dan Bahan Ajar” selalu menjasi penyebab ketidakberhasilan
sebuah proses pembelajaran di sekolah. Sebuah harapan yang selalu menjadi
wacana di antara para pendidik/guru kita dalam melaksanakan tugas mengajar
mereka di sekolah adalah tidak tersedianya ’media pembelajaran dan bahan ajar’
yang cukup memadai. Jawaban para guru ini cukup masuk akal. Seakan ada korelasi
antara ketersediaan ’media bahan ajar’ di sekolah dengan keberhasilan
pembelajarn siswa. Kita juga sepakat bahwa salah satu penyebab
ketidakberhasilan proses pemblajarn siswa di sekolah adalah kurangnya media dan
bahan ajar. Kita yakin bahwa pihak manajemen sekolah sudah menyadarinya.
Tetapi, sebuah alasan klasik selalu kita dengar bahwa ”sekolah tidak punya dana
untuk itu”!.
Dalam
pembelajaran Model PAKEM, seorang guru mau tidak mau harus berperan aktif,
proaktif dan kreatif untuk mencari dan merancang media/bahan ajar alternatif
yang mudah, murah dan sederhana. Tetapi tetap memiliki relevansi dengan tema
mata pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Penggunaan perangkat multimedia
seperti ICT sungguh sangat ideal, tetapi tidak semua sekolah mampu
mengaksesnya. Tanpa merendahkan sifat dan nilai multimedia elektronik, para
guru dapat memilih dan merancang media pembelajaran alternatif dengan
menggunakan berbagai sumber lainnya, seperti bahan baku yang murah dan mudah di
dapat, seperti bahan baku kertas/plastik, tumbuh-tumbuhan, kayu dan sebagainya,
guna memotivasi dan merangsang proses pembelajaran yang kreatif dan
menyenangkan.Media simulasi untuk pembelajaran PAKEM tidak selalu harus dibeli
jadi, tetapi dirancang bisa dirancang oleh seorang guru mata pelajaran sendiri.
Guru dituntut lebih kreatifdan memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide dan
inofatifnya.. Jadi, model ’pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan’, atau yang kita sebut dengan PAKEM itu tidak selalu mahal. Unsur
kreatifitas itu bukan terletak pada produk/media yang sudah jadi, tetapi lebih
pada pola fikir dan strategi yang digunakan secara tepat oleh seorang guru itu
sendiri dalam merancang dan mengajarkan materi pelajarannya.
Dalam
merancang sebuah media pembelajaran, aspek yang paling penting untuk
diperhatikan oleh seorang guru adalah karakteristik dan modalitas gaya belajar
individu peserta didik, seperti dalam pendekatan ’Quantum Learning’ dan
Learning Style Inventory’. Media yang dirancang harus memiliki daya tarik
tersendiri guna merangsang proses pembelajaran yang menyenangkan. Sementara ini
media pembelajaran yang relatif cukup representatif digunakan adalah media
elektronik (Computer – Based Learning). Selanjutnya skenario penyajian ’bahan
ajar’ harus dengan sistem modular dengan mengacu pada pendekatan Bloom
Taksonomi. Ini dimaksudkan agar terjadi proses pembelajaran yang terstruktur,
dinamis dan fleksibel, tanpa harus selalu terikat dengan ruang kelas, waktu
dan/atau guru. Perlu dicatat bahwa tujuan akhir mempelajari sebuah mata
pelajaran adalah agar para siswa memiliki kompetensi sebagaimana ditetapkan
dalam Standar Kompetensi (baca Kurikulum Nasional). Untuk itu langkah/skenario
penyajian pembelajarn dalam setiap topik/mata pelajaran harus dituliskan secara
jelas dalam sebuah Modul. Dengan demikian diharapkan para siswa akan terlibat
dalam proses pembelajaran tuntas (Mastery Learning) dan bermakna (Meaningful
Learning).
e. Jenis Penilaian Sesuai Dengan
Pembelajaran Model PAIKEM
1) Penilaian yang sesuai dengan pembelajaran
model Pakem adalah penilaian otentik yang merupakan proses pengumpulan
informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang
dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan,
membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah
benar-benar dikuasai dan dicapai.
2) Tujuan Penilaian otentik itu sendiri
adalah untuk:
·
Menilai Kemampuan Individual melalui tugas
tertentu;
·
Menentukan kebutuhan pembelajaran;
·
Membantu dan mendorong siswa;
·
Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang
lebih baik;
·
Menentukan strategi pembelajaran;
·
Akuntabilitas lembaga; dan
·
Meningkatkan kualitas pendidikan.
3) Bentuk penilaian tes dapat dilakukan
secara lisan, tertulis, dan perbuatan. Sementara itu, bentuk penilaian non tes
dilakukan dengan menggunakan skala sikap, cek lis, kuesioner, studi kasus, dan
portofolio.
4) Dalam pembelajaran, dengan pendekatan
Pakem rangkaian penilaian ini seyogiayanya dilakukan oleh seorang guru. Hal ini
disebabkan setiap jenis atau bentuk penilaian tersebut memiliki beberapa
kelemahan selain keunggulan.
f. Tujuan Penilaian Pembelajaran Model
PAIKEM
·
Menilai kemampuan individual melalui tugas
tertentu
·
Menentukan kebutuhan pembelajaran
·
Membantu dan mendorong siswa
·
Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang
lebih baik
·
Menentukan strategi pembelajaran
·
Akuntabilitas lembaga
·
Meningkatkan kualitas pendidikan
g. Merancang Dan Melaksanakan Penilaian
Pembelajaran Model PAIKEM
·
Merancang penilaian dilakukan bersamaan dengan
merancang pembelajaran tersebut. Penilaian disesuaikan dengan pendekatan dan
metode yang dilaksanakan dalam pembelajaran.
·
Dalam pembelajaran dengan pendekatan model
Paikem, penilaian dirancang sebagaimana dengan penilaian otentik. Artinya,
selama pembelajaran itu berlangsung, guru selain sebagai fasilitator juga
melakukan penilaian dengan berbagai alat yang sesuai dengan kegiatan yang
dilakukan oleh siswa.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam proses
belajar mengajar sangat diperlukan strategi pembelajaran yang sangat baik dan
cocok untuk situasi dan kondisi siswa. Strategi yang sangat cocok dan menarik
peserta didik dalam pembelajaran sekarang ini dikenal dengan nama PAIKEM
(Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)
B. Saran
Sebagai calon
pendidik hendaknya lebih memahami dan mempelajari mengenai pembelajaran PAIKEM
demi terwujudnya tujuan pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Konsep Dasar
PAIKEM. http:/sdn10-selebung-ketangga. blogspot.
com/2013/01/kegiatan-pembelajaran-1 konsep-dasar.html
Fauzi, N. 2012. Konsep
Pembelajaran PAIKEM. http:// kantingembira.blogspot. com /2012/10/konsep-pembelajaran-aktif-inovatif.html
Geri, S. 2012. Makalah Model
Pembelajaran PAIKEM. http ://makalah ilmu
pengetahuan.blogspot.com/2012/12/makalah-model-pembelajaran-paikem. html
Ginanjar, A. 2013. Konsep PAIKEM
dalam Pembelajaran. http://aginista.blog
spot.com/2013/01/konsep-paikem-dalam-pembelajaran.html
Nurhidayah. 2013. Makalah PAIKEM.
http://nurhidayatus123.wordpres.com/2013
/04/08/makalah -paikem/
Sudrajat, A. 2008. Konsep PAKEM.
https://akhmadsudrajat.wordpress.com /2008/ 01/22/konsep-pakem/