RESENSI MATERI
TEORI BELAJAR
1. a.
TEORI SOSIAL BANDURA
Teori
pembelajaran sosial dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang
mengalami pembelajaran dalam lingkungan sekitarnya. Bandura berpendapat bahwa
tingkah laku lingkungan dan kejadian-kejadian internal pada pembelajaran yang
mempengaruhi persepsi dan aksi adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh.
Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat
antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi
proses-proses kognitif belajar. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah
laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif
pembelajar.
Contoh:
Contoh aplikasi
teori belajar Bandura adalah ketika seorang anak belajar untuk mengendarai
sepeda. Ditahap perhatian, si anak akan tertarik mengamati para pengendara
sepeda dibanding dengan orang yang melakukan aktifitas lain yang dia anggap
kurang menarik. Oleh karena itu, ia akan mengamati bagaimana seseorang mengayuh
sepeda. Selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan
bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan
meminta ayahnya untuk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian
dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak kemudian benar-benar belajar
mengendarai sepeda bersama sang ayah. Ketika anak itu sudah berhasil, di
sinilah tugas sang ayah untuk memberi reward sebagai bentuk apresiasi atas
keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap motivasi.
b. TEORI BRUNER
DAN GAGNE
Bruner merupakan
salah seorang ahli psikolog perkembangan dan ahli belajar kognitif. Beliau
beranggapan bahwa belaar merupakan kegiatan perolehan informasi. Kegiatan
pengolahan informasi tersebut meliputi pembentukan kategori-kategori. Di antara
kategori-kategori tersebut ada kemungkinan saling berhubungan yang disebut
sebagai koding. Teori belajar Bruner ini disebut sebagai teori belajar
penemuan.
Ada tiga tahap
penampilan mental yang dikemukakan oleh Bruner, yaitu :
* Tahap Penampilan Enaktif sejajar dengan
Tahap Sensori Motor pada Piaget
Dimana anak pada
dasarnya mengembangkan keterampilan motorik dan kesadaran dirinya dengan
lingkungannya.
* Tahap Penampilan Ikonik sejajar dengan Tahap
Pre-Operasional pada Piaget
Pada tahap ini
penampilan mental anak sangat dipengaruhi oleh persepsinya, dimana persepsi
tersebut bersifat egosentris dan tidak stabil. Mereka belum mengembangkan
kontrol pada persepsinya yang memungkinkan mereka melihat dirinya sendiri
sengan suatu pola yang tetap.
* Tahap Penampilan Simbolik sejajar dengan
Tahap Operasi Logis (Formal) pada Piaget
Inti dari tahap penampilan
simbolik ini adalah pengembangan keterampilan berbahasa dan kemampuan untuk
mengartikan dunia luar dengan kata-kata dan idenya. Anak yang memulai untuk
secara simbolik memproses informasi.
Tidak seperti
Piaget, pembagian tahapan oleh Bruner bukanlah merupakan suatu hal yang kaku
melainkan bersifat fleksibel tidak dimaksudkan untuk menentukan kesiapan anak
untuk belajar. Bruner beranggapan bahwa semenjak kecil secara intuitif, manusia
sudah dapat menangkap konsep-konsep IPA.
Contoh:
Guru harus mempunyai
cara yang baik untuk tidak secara lansung memberikan informasi yang dibutuhkan
oleh siswa. Model pembelajaran ini mempunyai banyak manfaat, antara lain :
1. Pembelajar
(Siswa) akan mudah mengingat materi pembelajaran apabila informasi tersebut didapatkan
sendiri, bukan merupakan informasi perolehan.
2. Apabila
pembelajar telah memperoleh informasi, maka dia akan mengingat lebih lama.
Menurtu teori
Gagne Ada beberapa ciri penting tentang belajar, yaitu :
1. Belajar itu merupakan suatu proses yang
dapat dilakukan manusia,
2. Belajar
menyangkut interaksi antara pembelajar (orang yang belajar) dan lingkungannya,
3. Belajar telah berlangsung bila terjadi
perubahan tingkah laku yang bertahap cukup lama selama kehidupan orang itu.
Contoh:
contoh yang menggambarkan
pengajaran yang mengacu pada kejadian-kejadian belajar, mengajarkan segitiga
sama sisi.
1. Menujukkan di komputer bentuk bangun datar
segitiga yang bervariasi.
2. Memgajukan pertanyaan : Apa yang dimaksud
dengan segitiga sama sisi?
3. Meninjau kembali definisi segitiga
4. Memberikan deenisi segitiga sama sisi
5. Memberikan contoh segitiga sama sisi
6. Meminta siswa untuk membuat 5 contoh yang
berbeda
7. Memeriksa semua contoh
8. Memberikan nilai dan pengulangan
9. Menujukkan gambar
suatu benda dan meminta siswa untuk mengidentifikasi segitiga sama sisi.
c. TEORI AUSUBEL
DAN NOVAK
Menurut Ausubel
dan juga Novak (1977), ada tiga kebaikan belajar bermakna, yaitu :
1) Informasi
yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
2) Informasi
yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsumer-subsumer,
jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
3) Informasi
yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif (subsumsi yang telah rusak),
meninggalkan efek residual pada subsumer, sehingga mempermudah belajar hal-hal
yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Pengembangan
konsep berlangsung paling baik bila unsur-unsur yang paling umum, paling
inklusif dari suatu konsep diperkenalkan terlebih dahulu, dan kemudian baru
diberikan hal-hal yang lebih rinci dan khusus dari konsep tersebut. Dengan
perkataan lain model belajar menurut Ausubel umumnya berlangsung dari umum ke
khusus. Ausubel berkeyakinan bahwa belajar merupakan proses deduktif.
Dalam strategi
mengajar deduktif, guru mengajarkan konsep-konsep yang paling inklusif dahulu,
kemudian konsep-konsep yang kurang inklusif dan seterusnya. Proses penyusunan
konsep semacam ini disebut diferensial progresif atau konsep-konsep disusun
secara hierarki, hal ini diterjemahkan oleh Novak sebagai peta konsep.
Contoh:
Agar
terjadi belajar bermakna konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan
konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Dalam menerapkan
teori Ausubel dalam mengajar, selain konsep-konsep yang telah debahas
terdahulu, ada beberapa konsep dan prinsip-prinsip lain yang perlu
diperhatikan. Konsep-konsep atau prinsip-prinsip itu ialah pengatur awal
(advance organizer), diferensiasi progresif, pennyesuaian integrative, dan
belajar superordinat. Semua konsep-konsep ini akan dibahas denag sedapat
mungkin memberikan contoh penerapannya dalam mengajar.
Misalnya
dalam dierensiasi progresif: dalam materi pokok “senyawa karbon” dalam
pelajaran kimia SMA mengenai gagasan diferensiasi progresif. Gurutidakmulai
dengan mengajarkan asam cuka, formaldehida atau alcohol tapi ia mulai dengan
senyawa karbon dengan menunjukan mengapa senyawa itu disebut senyawa karbon.
Lalu ia mengemukakan ada dua macam senyawa karbon yaitu senyawa alifatik dan
aromatic dan diterangkanpula dasar perbedaan tertentu misalnyatentang macam
rantai aotom karbon dan lain sebagainya.lalu senyawa alifatik diturunkan lagi
menjadi beberapa golongan senyawa-senyawa yaitu senyawa-senyawa hidrokarbon,
senyawa karbonil dan lain-lain. Kemudian senyawa hidrikarbon diperinci lagi
menjadi deret homolog alkena, alkana, alkuna. Lalu untuk setiap deret homolog
diberikan contoh-contoh yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh-contoh inilah yang merupakan konsep-konsep yang paling khusus sedangkan
senyawa karbon itu sendiri merupakan konsep yang paling inklusuf.
2. ISU-ISU
PENDIDIKAN DALAM TEORI BELAJAR
a.
Ujian Nasional
Ujian Nasional merupakan salah satu jenis penilaian
yang diselenggarakan pemerintah guna mengukur keberhasilan belajar siswa. Dalam
beberapa tahun ini, kehadirannya menjadi perdebatan dan kontroversi di
masyarakat. Di satu pihak ada yang setuju, karena dianggap dapat meningkatkan
mutu pendidikan. Dengan adanya ujian nasional, sekolah dan guru akan dipacu untuk
dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya agar para siswa dapat mengikuti ujian
dan memperoleh hasil ujian yang sebaik-baiknya. Demikian juga siswa didorong
untuk belajar secara sungguh-sungguh agar dia bisa lulus dengan hasil yang
sebaik-baiknya.Sementara, di pihak lain juga tidak sedikit yang merasa tidak
setuju karena menganggap bahwa Ujian Nasional sebagai sesuatu yang sangat
kontradiktif dan kontraproduktif dengan semangat reformasi pembelajaran yang
sedang kita kembangkan. Sebagaimana dimaklumi, bahwa saat ini ada kecenderungan
untuk menggeser paradigma model pembelajaran kita dari pembelajaran yang lebih
berorientasi pada pencapaian kemampuan kognitif ke arah pembelajaran yang lebih
berorientasi pada pencapaian kemampuan afektif dan psikomotor, melalui strategi
dan pendekatan pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan dan kontekstual,
dengan berangkat dari teori belajar konstruktivisme.
b.
Lingkungan dan Pendidikan Lingkungan Dalam
Pembelajaran IPS SD
Manusia dalam kehidupannya, baik secara individu maupun kelompok tidak
bisa dilepaskan dari lingkungan sekitar dimana ia hidup. Lingkungan sekitar
memberikan wahana bagi manusia untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan
dirinya sehingga tercapai tujuan yang diinginkan, seperti kenyamanan,
kesejahteraan, dan ketenangan dalam kehidupannya. Manusia merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari lingkungan sekitar, maka corak hubungan keduanya lebih
bersifat fungsional, yaitu saling ketergantungan antara satu dengan yang
lainnya untuk memainkan fungsi dan perannya masing-masing. Corak hubungan
antara manusia dengan lingkungan sekitarnya mengalami perubahan. Sesuai dengan
perkembangan zaman dan kemajuan peradaban manusia, maka ada usaha-usaha yang
dilakukan manusia untuk mengubah, mengolah, dan menaklukkan alam. Usaha-usaha
yang dilakukan oleh manusia itu pada gilirannya membawa dampak pada perubahan
tatanan lingkungan alam yang ada. Seringkali dampak yang ditumbuhkan oleh
lingkungan alam itu sedemikian rupa sehingga tidak menguntungkan juga bagi
kehidupan manusia. Bencana alam, seperti banjir, bahaya kekeringan, kelaparan,
tanah yang tandus, polusi udara, tanah, dan air, baik secara langsung mauoun
tidak langsung bersumber dari ulah manusia juga.
Adapun
aspek-aspeek yang termasuk ke dalam konsep lingkungan hidup yaitu:
1) Lingkungan abiotik: yaitu segala sesuatu
yang ada di sekitar mahluk hidup yag bukan berupa organisme hidup. Seperti mineral, udara, gas, air, dan energi.
2) Linkungan biotik: yaitu segala sesuatu
yang ada di sekitar mahluk hidup yang berupa organism hidup. Seperti mikro
organism, binatang, tumbuhan, manusia, dan mahluk hidup lainnya.
3) Lingkungan alam: yaitu kondisi alamiah
baik secara abiotik maupun biotic yang belum banyak dipegaruhi oleh
tangan-tangan manusia. Seperti sumber-sumber alam yang belum trgali, udara yang
masih segar, tanah yang belum digarap, hutan yang masih perawan, binatang yang
masih liar, dan sebagainya masuk kategori lingkungan alam itu.
4) Lingkungan sosial: yaitu manusia baik
secara individu maupun kelompok yang ada diluar dirinya. Seperti keluarga,
teman, dan tetangga.
5) Lingkungan budaya: yaitu segala sesuatu
baik secara materi maupun non materi yang dihasilkan manusia melalui proses
penciptaan rasa, karsa, dan karyanya. Lingkungan ini dapat berupa bangunan,
peralatan, senjata, pakaian, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan budaya non
materi dapat berupa tata nilai, norma, peraturan hukum, sistem politik,
kesenian, dan sebaginya.