Rabu, 11 Desember 2019


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan itu, murid harus berkembang secara optimal dengan kemampuan untuk berkreasi, mandiri, bertanggung jawab,  dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pendidikan harus membantu bukan hanya mengembangkan kemampuan intelektualnya, tetapi juga kemampuan mengatasi masalah yang ditemuinya dalam interaksinya dengan lingkungan.

Sekolah tidak hanya berfungsi memberikan pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga dapat mengembangkan keseluruan kepribadian anak. Oleh karena itu, guru harus mengetahui lebih dari sekedar masalah bagaimana mengajar yang efektif. Untuk itu sebagai calon guru kita perlu mengetahui wawasan dan pemahaman tentang layanan dan konseling di sekolah.

B.      Rumusan Masalah
1.       Bagaimana pengertian bimbingan dan konseling di sekolah?
2.       Apa tujuan bimbingan dan konseling di sekolah?
3.       Apa cirri-ciri dan fungsi bimbingan konseling di sekolah?
4.       Apa asas-asas dan peran bimbingan konseling disekolah?

C.      Tujuan Penulisan
Mahasiswa diharapkan memahami apa yang menjadi pokok-pokok bahasan dalam materi bimbingan konseling yang dipaparkan.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan dua istilah yang sering dirangkaikan bagaikan kata majemuk. Hal itu mengisyaratkan behwa kegiatan bimbingan kadang-kadang dilanjutkan dengan kegiatan konseling.
1.       Pengertian Bimbingan
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Menurut jones (1963), Guidance is the help given by one person to another in making choice and adjustments and solving problems. Dalam pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing adalah hanyalah membantu agar individu yang dibimbing mampu membantu dirinya sendiri, sedangkan keputusan terakhir tegantung kepada individu yang dibimbing (klein).
Menurut Rochman natawidjaja (1978): bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu tersebut dapat  memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarrahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Dengan demikian ia dapat mengecap kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan subangan yang berarti.
2.       Pengertian Konseling
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru/ konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahakan masalah yang di hadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi  yang dimiliki secara optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kepeanfaatan social.





B.     Tujuan Bimbingan di Sekolah
Layanan bimbingan sangat dibutuhkan agar siswa-siswa yang mempunyai masalah dapat terbantu, sehingga mereka dapat belajar lebih baik. sekolah adalah membantu siswa. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 Buku III C dinyatakan bahwa tujuan bimbingan di sekolah untuk:
1.       Mengatasi kesulitan dala belajarnya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
2.       Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar-mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
3.       Mengatasi kesulitan-kesulita yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
4.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi.
5.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat.
6.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial-emosional di sekolah yang bersumber dari sikap murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan yang lebih luas.

Di samping tujuan-tujuan tersebut, Downing (1968) juga mengemukakan bahwa tujuan layanan bimbingan di sekolah sebenarnya sama dengan pendidikan terhadap diri sendiri, yaitu membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial spikologis mereka, merealisasikan keinginannnya, serta mengembangkan kemampuan atau potensinya.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa tujuan layanan bimbingan adalah membantu mengatasi berbagai macam kesulitan yang dihadapi siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.

C.    Ciri-ciri Kegiatan Konseling
1.       Dilakukan secara berkesinambungan
2.       Dilakukan dalam perjumpaan tatap muka
3.       Perlu orang yang ahli dibidang konseling
4.       Tujuannya memecahkan masalah klien
5.       Klien akhirnya mampu memecahkan masalahnya sendiri




D.    Fungsi Bimbingan di Sekolah
           Uman Suherman (2008) menyatakan bahwa secara umum, fungsi bimbingan dan konseling dapat diuraikan sebagai berikut.
1.       Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan  pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2.        Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya: bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat -obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
3.        Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/ Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan di sini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
4.       Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
5.       Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
6.       Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
7.       Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8.       Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
9.       Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
10.    Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi -kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.

Adapun fungsi khusus bimbingan dan konseling, yakni khususnya di sekolah, menurut H.M. Umar, dkk., adalah sebagai berikut:
1.       Menolong anak dalam kesulitan belajarnya;
2.       Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak;
3.       Memberi nasehat kepada anak yang akan berhenti dari sekolahnya;
4.       Memberi petunjuk kepada anak-anak yang melanjutkan belajarnya dan sebagainya


E.     Peranan Dan Bimbingan Konseling Dalam Pembelajaran Siswa
Dalam proses pembelajaran siswa, setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut sering kali kandas dan tidak bisa terwujud, sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Sebagai petanda bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui dari berbagai jenis gejalanya seperti dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut;
1.       Hasil belajar rendah, di bawah rata-rata kelas.
2.       Hasil yang dicapai tidak seimbang denga usaha yang dilakukannya.
3.       Menunjukkan sikap yang kurang wajar; suka menentang, dusta, tidak mau menyelesaikan tugas-tugas, dan sebagainya.
4.       Menunjukkan tingakah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu, dan sebagainya.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar kadang-kadang ada yang mengerti bahwa dia mempunyai maslah tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan ada juga tidak mengerti kepada siapa ia harus meminta bantuan dalam menyelesaikan masalahnya itu. Apabila masalahnya itu belum teratasi, mereka mungkin tidak dapat belajar dengan baik, karena konsentrasinya akan terganggu.
Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan di atas, maka bimbingan dan komseling dapat memberikan layanan dalam; (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, dan (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.

F.     Orang Yang Dapat Membimbing Di Sekolah
Sipakah yang dapat menjadi pembimbing di sekolah? Untuk menjawab pertanyaan ini ada 2 kemungkinan yang dapat ditempuh, yaitu:
1.       Pembimbing di sekolah dipegang oleh orang yang khusus dididik menjadi konselor, jadi merupakan tenaga khusus yang ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaan itu dengan tidak menjabat pekerjaan lain
2.       Pembimbing di sekolah dipegang oleh guru pembimbing (teacher conselor), yaitu guru yang di samping menjabat guru juga menjadi pembimbing.

G.    Asas-asas Dan Bimbingan Konseling
Asas adalah segala hal yang harus dipenuhi dalam melaksanakan suatu kegiatan. Menurut Prayitno ada beberapa asas yang harus diperhatikan.
1.       Asas kerahasiaan: Asas ini merupakan asas kunci, karena klien mampu mengungkap masalahnya pada orang yang dipercaya klien. Dengan adanya keterbukan masalah akan dapat diselesaikan dengan baik.
2.       Asas keterbukaan: ini didasarkan atas asas kerahasiaan. Klien dan konselor perlu suasana keterbukaan untuk mengungkapkan perasaan, pemikiran dan keinginan yang berkaitan dengan permasalahan yang ingin diselesaikan.
3.       Asas kesukarelaan: Asas ini lebih terkait dengan pribadi konselor. Konselor perlu memiliki sikap sukarela dalam membantu menyelesaikan permasalahan klien. Dengan sikap sukarela dari konselor klien akan dengan sukarela pula menceritakan dan mencari solusi atas permasalahannya.
4.       Asas kekinian: Fokus pemecahan permasalahan klien adalah pada masa saat ini. Apa yang saat ini dirasakan dan menjadi permasalahan klien adalah hal yang perlu diselesaikan dalam pertemuan konseling.
5.       Asas kegiatan: Konseling dapat berlangsung baik apabila klien mau melaksanakan tugas yang diberikan. Konselor hendaknya mampu memotivasi klien melakukan kegiatan yang disarankan dalam sesi konseling demi tujuan penyelesaian masalah klien
6.       Asas kedinamisan: Dinamis merupakan perubahan menuju pada kemajuan yang terjadi pada klien. Konselor hrus memberikan layanan yang sesuai dengan sifat keunikan tiap individu demi perubahan ke arah perkembangan pribadi yang lebih baik
7.       Asas keterpaduan: Dalam pemberian layanan, konselor perlu memperhatikan aspek kepribadian klien yang diarahkan untuk mencapai keharmonisan dan keterpaduan. Keterpaduan ini berkaitan dengan aspek klien maupun mengenai keterpaduan isi dan proses layanan.
8.       Asas kenormatifan: Usaha layanan tidak boleh bertentangan dengan norma yang berlalu sehingga tidak terjadi penolakan dari pihak yang dibimbing. Asas ini berkaitan dengan proses dan saran atau keputusan yang dibahas dalam konseling.
9.       Asas keahlian: Proses konseling harus dilakukan dengan profesional dan oleh orang yang profesional yang menntut ketrampilan khusus dan terlatih untuk melakukan konseling
10.   Asas alih tangan: Asas ini bertujuan agar tidak terjadi pemberian layanan yang tidak tepat. Bila permasalahan klien perlu penanganan dari ahli yang lain maka pengalihtanganan kepada pihak yang lebih ahli perlu dilaksanakan.
11.   Asas tut wuri handayani: Makna layanan bimbingan dan konseling tidak hanya berkaitan dengan permasalahan saat tertentu melainkan makna tersebut tetap dirasakan oleh klien pada masa yang akan datang

H.    Orientasi Bimbingan dan Konseling
1.       Orientasi individual
Berdasarkan pada perbedaan yang bersumber  dari latar  belakang  pengalaman, pendidikan , sifat kepribadian yang dimiliki, status dan kelas sosial tertentu.
2.       Orientasi perkembangan
Setiap periode perkembangan  mempunyai tugas  perkembangan sendiri yang harus di capai pada masanya, karena akan berpengaruh pada tahap selanjutnya.



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
               Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling ditujukan untuk membimbing dan mengarahkan individu melalui usahanya sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi serta bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal/sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
               Untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi masalah yang dihadapi sering kali oleh siswa memerlukan bantuan professional. Sekolah harus dapat menyediakan layanan professional yang dimaksud berupa layanan bimbingan dan konseling, karena sekolah merupakan lingkungan akan yang terpenting sesudah keluarga.




DAFTAR PUSTAKA

Blog “Bimbingan dan Konseling ”, https://dirgamath29.wordpress.com/2013/06/14/bimbingan-dan-konseling-di-sekolah/. Di akses pada tanggal 21 November 2018.
Blog. “ Bimbingan dan Konseling di Sekolah”, https://goffrot.blogspot.com/2016/12/makalah-bimbingan-dan-konseling-di.html. Di akses pada tanggal 21 November 2018.


Selasa, 10 Desember 2019


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Di dalam kehidupan praktis sehari-hari, manusia bergerak di dalam dunia yang telah diselubungi dengan penafsiran-penafsiran dan kategori-kategori ilmu pengetahuan dan filsafat. Penafsiran-penafsiran itu seringkali diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, situasi-situasi kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan, sehingga ia telah melupakan dunia apa adanya, dunia kehidupan yang murni, tempatberpijaknya segala bentuk penafsiran.
Filsafat ilmu ekonomi meliputi pembahasan tentang aspek konseptual, metodologi, dan etika yang berkaitan dengan disiplin ilmu ekonomi (Hausman, 2008;Caldwell, 1993). Fokus utamanya adalah aspek metodologi dan epistemologi yang meliputi metode, konsep, dan teori yang dibangun oleh para ekonom untuk sampai pada yang disebut “science” tentang proses ekonomi. Filsafat ekonomi juga berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai etika menjadi bagian argumentasi dalam ilmu ekonomi seperti kesejahteraan, keadilan, dan adanya trade-off diantara pilihan-pilihan yang tersedia. Pertanyaan yang selanjutnya mengemuka adalah apakah dimensi filsafat ilmu ekonomi tersebut menghasilkan pengetahuan empiris yang menjadi dasar teoritis ilmu ekonomi sehingga dapat diklaim bahwa filsafat ekonomi adalah bagian integral dari filsafat ilmu pengetahuan. Pembahasan tentang pertanyaan ini telah berlangsung lama dan menimbulkan banyak perdebatan di kalangan ekonom dan filosof hingga saat ini.
Ruang lingkup pembahasan Ilmu Ekonomi menyangkut persoalan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang berhubungan langsung dengan prilaku dan perbuatan manusia dalam usaha mencapai mencapai kemakmuran jasmani. Akan tetapi karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas sedangkan sumber daya yang ada terbatas maka terjadi kelangkaan, kelangkaan ini yang perlu diatasi agar tidak terjadi gesekan-gesekan dalam tatanan kehidupan masyarakat.   

B.     Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi
2. Bagaimana Pemikiran Tokoh-Tokoh Filusuf Ekonomi
3. Bagaimana teori ilmu ekonomi makro

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan ilmu ekonomi
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan mengenai metode keilmuan ilmu ekonomi
1
BAB II
PEMBAHASAN


A. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Ekonomi
Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusiadalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Ekonomi berasal dari bahasa Yunani Oikonomia, secara epitomologis kata Oikos yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόµος (nomos), yang berarti “peraturan, aturan, hukum,” dan secara garis besar diartikan sebagai “aturan rumah tangga” atau “manajemen rumah tangga.”
Ilmu ekonomi tidak secara mendadak diciptakan begitu saja, namun ilmu ini berkembang melalui suatu proses panjang. Baru mulai pada 1776 ilmu ekonomi dianggap sebagai satu disiplin ilmu baru, tepatnya semenjak Adam Smith yang merupakan seorang ahli ekonomi menulis sebuah buku yang berjudul “An Inguiry Into The Mature and Causes of the Wealth of Nations”.
Sejak itulah oleh para ahli ilmu ekonomi, Adam Smith disebut sebagai bapak Ilmu Ekonomi. Sebenarnya, ekonomi sendiri ditelaah dan sudah mulai dipelajari orang semenjak 350 SM, atau sejak zaman filosof terkenal Aristoteles. Hanya saja pada waktu itu penelaahan ekonomi lebih bersifat filosofis, atau masih dipelajari pada tingkat yang sangat dasar. Selanjutnya, penelaahan ekonomi diusahakan untuk lebih dikembangkan lagi pada tahun 1270 oleh Thomas Aquino dengan penambahan beberapa pemikiran di dalamnya.
Kemudian di tahun 1758, Francois Quesnay coba menjelaskannya lebih jauh, kendati demikian perkembangan ilmu ekonomi saat itu belum sampai pada pembentukan disiplin ilmu ekonomi yang sesungguhnya. Di zaman ini, ekonomi lebih dikenal dengan sebutan fisiokrat.
Barulah di tahun 1776, muncul tokoh baru bernama Adam Smith yang berhasil mengangkat penelaahan ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi semenjak saat itu dirasa memberikan banyak manfaat oleh manusia di dalam usaha mereka untuk meningkatkan tujuan hidup. Jadi, bisa dibilang perjalanan ilmu ekonomi sendiri melewati berbagai proses dan masa yang sangat panjang.
Seperti kita ketahui bahwa ilmu ekonomi akan senantiasa berkembang terus, gagasan Adam Smith tersebut kemudian menjadi dasar bagi para ahli ekonomi selanjutnya, seperti Thomas Malthus, David Ricardo, dan John Stuart Mill. Mereka disebut juga dengan ahli ekonomi klasik. Tradisi klasik ini lalu diteruskan dan dikembangkan oleh mazhab Austria, dengan beberapa tokoh yang termasuk di antaranya Leon Walras, dan Alfred Marshall pada tahun 1890-an.
Tradisi ekonomi klasik inilah yang menjadi embrio dari perkembangan bagian teori ekonomi yang sekarang ini dikenal dengan Ekonomi Makro.
2
Perkembangan ilmu ekonomi dari Adam Smith merupakan sisi lain yang berkembang dari pendapat Karl Marx dan dianut oleh Negara-negara yang menganut ideologi sosialis-komunis. Barulah kemudian berkembang lagi dan yang timbul belakangan di Negara-negara yang menganut ideologi ekonomi liberal. Namun, pengertian tentang tradisi klasik yang menjadi sumber dari teori ekonomi mikro perlu benar-benar dicamkan kembali sebab pasti masih akan sering dijumpai. Depresi ekonomi yang terjadi pada tahun 1930-an melahirkan ahli ekonomi baru, yaitu John Maynard Keynes,  dengan bukunya yang sangat terkenal : General Theory of Employment, Interest and Money yang menjadi dasar bagi perkembangan teori ekonomi Makro. Jadi perkembangan ekonomi Makro dimulai setelah terbitnya buku tersebut, berbeda dengan kelompok Klasik (yang mendasarkan pada bekerjanya mekanisme pasar), maka Keynes mendasarkan pada campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi.
Perkembangan keadaan ekonomi yang pesat dan rumit menumbuhkan beberapa masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh alat-alat yang sudah dikembangkan oleh Klasik maupun Keynes, seperti masalah stagflasi, ketidakpastian masa depan, dinamika ekonomi, dsb. Karena itu sesudah Keynes berkembanglah bebrapa tunas-tunas baru yang tidak sepenuhnya Klasik atau Keynesian seperti kelompok Post keynesian Economist kelompok Monetarists, kelompok Rational  Exceptations serta kelompok yang menyangkut kebijakan ekonomi seperti kelompok Supply Side Economits.Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling terkenal adalah mikroekonomi dan makroekonomi.

Secara kronologis, perkembangan ilmu ekonomi seiring dengan munculnya para filosof ekonomi mulai dari mashab pra klasik, klasik, neo klasik, sosialis, keynesian dan perekonomian masa kini.

1.       Filsafat Ekonomi Pra Klasik
a.      Kaum Markantilisme
Dasar pememikiran bagi kaum merkantilisme adalah bahwa suatu neraca perdagangan aktif dapat menyebabkan mengalirnya kas ke dalam negeri sebagai syarat utama usaha, sehingga dapat menyebabkan kemakmuran nasional. Pandangan ini adalah dasar bagi suatu politik perniagaan protesionistik
b.      Kaum Fisiokrat
Pemikiran para kaum fisiokrat mengatakan bahwa sumber segala kemakmuran terletak dalam bidang pertanian
2.      Filsafat Ekonomi Klasik
Fokus okonomi pada mashab klasik  adalah liberalasasi, yakni berdasarkan diri atas dalil bahwa sesuatu perekonomian yang berkembang dengan bebas merupakan syarat terbaik bagi suatu perkembangan kemakmuran yang menguntungkan.
3
3.     Filsafat Ekonomi Neo klasik
         Kurun waktu tentang aktifitas ekonomi neo klasik sekitar akhir abad ke-19. Tokoh-tokoh pemikir ataupun para filosof terkenal pada mashab ekonomi neo klasik adalah Leon Warlas dan Alfred Marshall.
a. Filosof Leon Warlas
b. Filosof Alfred Marshall
Pemikir ekonomi neo klasik Alfred Marshal dikenal pula sebagai pendiri Mashab Anglo Amerika.

4.     Filsafat Ekonomi Kaum Sosialism
        Para pemikir kaum Utopis (seperti Edward Bellamy) beranggapan bahwa satu-satunya pemecahan masalah kemiskinan terletak pada usaha untuk merombak organisasi ekonomi secara total

5.     Filsafat Ekonomi John Maynard Keynes
a.      Pokok-Pokok Ajaran Keynes
Inti pokok dari ajaran Keynes adalah sebagai berikut :
1.   Pendapatan total tergantung dari volume kesempatan kerja total
2.   Kecenderungan untuk berkonsumsi ( propensiti to Consume = PTC ), dimana jumlah pengeluaran untuk konsumsi tergantung pada tingkat pendatan, demikian halnya pada kesempatan kerja total.
3.   Kesempatan kerja total tergantung pada permintaan efektif total (D), yang terdiri dari dua bagian yaitu : (a) pengeluaran untuk Konsumsi (D1) dan (b) pengeluaran untuk inventasi (D2), Sehingga : D  =  D1   +   D2
4.   Dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) permintaan total (aggregate demand = D) sama dengan aggregate supply = Z).
                                    jika      :           D  =  D1  +   D2   atau  D2  =  D – D1
                       Maka  :           D  =  Z,   sehingga        D2  =  Z – D1
5.   Dalam keadaan keseimbangan (equilibrium), penawaran total sama dengan permintaan total dan permintaan total  dideterminasi oleh kecendrungan untuk mengkonsumsi (PTC) dan volume inventesi. Dengan demikian, maka volume kesempatan kerja tergantung pada : (a) fungsi penawaran total (aggregate supply function), (b) kecendrungan untuk berkonsumsi (the propensity to consume), dan (c) volume investasi
6.   Fungsi penawaran total tergantung pada kondisi-kondisi fisik penawaran dan kecenderungan untuk berkonsumsi adalah relatif stabil dan oleh karenanya fluktuasi-fluktuasi pada kesempatan kerja terutama tergantung pada volume inventasi.

4
7.   Volume inventasi tergantung pada : (a) efisiensi marginal modal atau  marginal efficency of  capital = MEC, dan (b) suku bunga (interest).
8.   Efisiensi marginal modal tergantung pada : (a) harapan tentang hasil laba, dan (b) biaya pengganti aktiva modal.
9.  Suku bunga tegantung pada : (a) jumlah uang, dan (b) keadaan preferensi likuiditas.

b.      Kenynes versus klasik
Keynes menganggap bahwa pengawasan  sentral dan pengawasan oleh negera (pemerintah) adalah perlu guna memperbaiki dan mempertahankan kondisi tertetu yang umumnya diinginkan pada sebuah perekonomian. pandangan tersebut mirip dengan kaum merkantilisme yang secara singkat dapat dikatakan bahwa ekonomi Keynes merupakan persoalan politik atau kebijakan.
Seperti halnya kaum merkantilis ia menghendaki agar pemerintah memberikan perlindungan secara intern dan ia menganjurkan agar diperlukan perpajakan guna memberikan jaminan sosial bagi tenaga kerja tanpa menaikkan upah, sedangkan secara extern ia menganjurkan perlunya tarif protektif guna meningkatkan kegiatan ekspor.
Teori Keynes diasumsikan bahwa tendasi untuk mengadakan tabungan (saving) cenderung menjadi lebih besar dengan tendisi untuk menginventasi. pada perokonomian kapitalis yang maju, kesempatan inventasi dan perangsang untuk menginventasi berbeda.
Variabel-variabel makro ekonomi yang besar bagi Keynes adalah konsumsi total, investasi total dan pendapatan total dalam suatu perekonomian. Formulasinya adalah sebagai berikut:
Konsumsi Total  +  Infestasi Total  =  Pendapatan total
                                    ( C  +  I    =   Y )
Formulasi di atas disebut sebagai model ekonomi tertutup sederhana dalam perkembangan ekonomi.





5
B.     Teori Ekonomi Makro
Pada dasarnya teori ekonomi makro adalah sebuah teori yang mempelajari dan mambahas tentang segala peristiwa, fenomena atau masalh-masalah yang terkait dengan ekonomi secara keseluruhan atau dalam ruang lingkup besar. Ekonomi makro juga merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang memfokuskan kajian terhadap mekanisme kerja perekonomian suatu bangsa secara menyeluruh. Karena pada dasarnya ekonomi makro memiliki tujuan untuk mengerti dan memahami peristiwa atau kejadian seputar perekonomian dan berusaha untuk membuat suatu rumusan yang menjadi solusi untuk memperbaiki kebijakan ekonomi yang ada. Selain itu dalam ekonomi makro ini ada beberapa hubungan yang terjadi. Hubungan yang dibahas di dalamnya meliputi hubungan antar variabel yang agregatif, adapun hubungan tersebut, antara lain :
a.       Tingkat pendapatan nasional
b.      Konsumsi yang dilakukan rumah tangga
c.       Investasi nasional (pemerintah atau swasta)
d.      Tingkat tabungan (institusi atau individu)
e.       Belanja pemerintah (APBN atau APBD)
f.       Tingkat harga (harga umum atau harga pasar)
g.       Jumlah uang yang beredar dalam masyarakat.
h.      Tingkat bunga yang didapat
i.        Kesempatan kerja dan lapangan pekerjaan
j.        Neraca pembayaran
k.      Ekspor dan impor
Itulah beberapa hubungan-hubungan yang dibahas dlm ekonomi mkro. Diharapkan dengan adanya ekonomi makro bisa menemukan segala permasalahan atau mencari solusi atau sebuah terobosan baru. Selain itu kita juga harus tahu ruang lingkup yang dimiliki oleh ekonomi makro, meliputi :
Bagaimana peran permintaan dan penawaran yang menentukan tingkat kegiatan dalam perekonomian.
Masalah-masalah besar yang sering menimpa perekonomian, antara lain inflasi, pengangguran, korupsi dan lainnya. Perananan dari kebijakan, peraturan yang merupakan usaha pemerintah dalam mengatasi sebuah permasalahan perekonomian.
Kajian kajian yang dibahas dalam ekonomi makro, ada beberapa aspek yang dikaji di dalamnya, antara lain :
a.       Inflasi (kenaikan harga)
b.      Pertumbuhan ekonomi
c.       Tingkat pengangguran
d.      Kerjasama antar negara di dunia
e.       Perjalanan siklus ekonomi

6
Pada dasarnya ekonomi makro memiliki beberapa kebijakan sebagai landasan untuk mengatasi dan menganalisis permasalahan-permasalahan ekonomi yang memiliki ruang lingkup besar. Adapun kebijakannya antara lain:
a.       Kebijakan fiskal
b.      Kebijakan moneter
c.       Kebijakan segi penawaran
d.      Itulah beberapa kebijakan yang ada dalam ekonomi makro, kebijakan ini dibuat bukan tanpa tujuan, tapi kebijakan ekonomi makro memiliki beberepa tujuan yakni :
e.       Menciptakan kestabilan harga
f.       Memaksimalkan tenaga kerja (SDM) dan output
g.       Menciptakan pertumbuhan ekonomi
h.      Menguatkan neraca pembayaran
i.        Meningkatkan kapasitas produksi nasional
j.        Mendistribusi pendapatan
  


7
BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
Makro-ekonomi meliputi berbagai konsep dan variabel, tetapi selalu ada tiga topik utama untuk penelitian makro-ekonomi. Teori-teori makro-ekonomi biasanya terhubung dengan fenomena keluaran, pengangguran dan inflasi. Di luar teori makro-ekonomi, topik-topik tersebut juga sangatlah penting untuk semua agen ekonomi termasuk pekerja, konsumen dan produsen.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan dalam sistem standar kertas, tidak ada proses otomatis yang menstabilkan tingkat harga. Disini kaum klasik melihat satu-satunya peranan makro pemerintah, yaitu mengendalikan jumlah uang beredar sesuai dengan kebutuhan transaksi masyarakat.
Di dalam sistem standar emas, ada mekanisme otomatis yang menjamin kestabilan harga. Disini peranan pemerintah tidak dianggap perlu, sebab jumlah uang (emas) yang beredar akan otomatis menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
Menurut Keynes, situasi makro suatu perekonomian ditentukan oleh apa yang terjadi dengan permintaan agregat masyarakat apabila permintaan agregat melebihi penawaran agregat (atau output yang dihasilkan) dalam periode tersebut, maka akan terjadi situasi “kekurangan produksi”. Pada periode berikutnya output akan naik atau harga akan naik, atau keduanya terjadi bersama-sama.






8
DAFTAR PUSTAKA


Hausman, D. and Michael S. McPerson. Economic Analysis and Moral Philosophy,Cambridge Surveys of Economic Literature. Cambridge University Press. NewYork

Acemoglu, D. Laibson, D. Lits, JA. 2016.  Micro Economic Global Edition. Pearson Education Limited. Edinburgh Gate Harlow Essex CM20 2JE England.

Qamar, Nurul. 2009. Pengantar Hukum Ekonomi. Pustaka Refleksi. Makassar.

Gilarso, T. 2004. Pengantar Ilmu Ekonomi Macro Edisi Revisi. Kanisius, Yogyakarta55011.

File bisa download disini

Tanggal

Statistik

Popular Posts